Gemini Nano Dikerahkan Lawan SMS Penipuan di Android, Singapura Ikut Menggarap AI Serupa

Redaksi Bit Nusantara ·

Sebuah smartphone dengan pesan kunci layar yang humoris diletakkan di sofa abu-abu, menekankan privasi.
Ilustrasi · Foto: Castorly Stock / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Google memperkenalkan fitur Enhanced Protection di Android yang memakai Gemini Nano untuk mendeteksi SMS penipuan. Di saat berdekatan, pemerintah Singapura dan Google DeepMind mengumumkan kerja sama pengembangan model AI untuk memperingatkan pengguna Android soal penipuan secara real-time pada 14 Oktober.

Poin kunci

  • Enhanced Protection memakai Gemini Nano untuk mendeteksi SMS penipuan di Android.
  • Fitur ini dibangun di atas Scam Detection di Google Messages yang diperkuat analisis berbasis cloud.
  • Fitur perlindungan berbagi layar menyembunyikan kolom login dan halaman pembayaran, tersedia untuk Android 15 ke atas.
  • Pemerintah Singapura dan Google DeepMind mengumumkan kolaborasi model AI pendeteksi penipuan pada 14 Oktober.
  • Data pribadi dan konten percakapan diproses langsung di perangkat, tidak dikirim ke luar.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Google meluncurkan fitur Enhanced Protection di Android yang mengandalkan Gemini Nano untuk mengenali pesan singkat berisi penipuan. Fitur itu berdiri di atas Scam Detection di Google Messages, yang kini dilengkapi analisis berbasis cloud.

Sementara itu, Scam Detection pada notifikasi chat akan menjangkau ponsel Android dari Honor, Infinix, Motorola, OnePlus, Oppo, Tecno, Vivo, dan Xiaomi di seluruh dunia.

Google juga menambahkan perlindungan tautan yang membidik domain baru yang belum tercatat dalam katalog. Menurut Google, "Penipu sering kali menyamarkan motif mereka yang sebenarnya di balik percakapan yang dibangun secara perlahan".

Untuk modus pembajakan lewat berbagi layar, Google menyiapkan fitur yang menyembunyikan kolom login dan halaman pembayaran ketika layar dibagikan lewat Google Chrome atau Android System WebView. Fitur tersebut tersedia bagi ponsel dengan Android 15 ke atas.

Google pun akan melarang aplikasi meneruskan panggilan secara diam-diam di latar belakang, langkah yang dimaksudkan menutup celah pencurian one-time password. Pembatasan ini dijadwalkan bergulir mulai awal Desember di Google Pixel dan ponsel tertentu.

Sistem itu menganalisis isi percakapan di aplikasi seperti WhatsApp dan Telegram demi menemukan tanda manipulasi psikologis atau paksaan.

Pelatihan model diarahkan pada modus yang lazim ditemui di Singapura, antara lain peniruan identitas pejabat pemerintah, karyawan bank, dan staf lembaga keuangan. Seluruh data pribadi dan konten yang dipertukarkan diolah langsung di perangkat tanpa ditransfer ke luar.

Latar kerja sama itu adalah besarnya kerugian: sejak 2019 hingga kini, total kerugian akibat penipuan di Singapura telah melewati S$4 miliar.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Dua kabar ini memperlihatkan arah yang sama: deteksi penipuan bergeser dari daftar hitam tautan menuju pembacaan konteks percakapan oleh model AI yang berjalan di perangkat. Enhanced Protection memakai Gemini Nano untuk menilai pesan, sedangkan proyek Singapura memproses isi percakapan langsung di ponsel tanpa mengirimnya ke luar. Pendekatan pemrosesan lokal berpotensi menjawab kekhawatiran privasi, meski seberapa akurat sistem ini di lapangan masih menjadi pertanyaan karena bahan belum memuat angka kinerja.

Skalanya juga patut dicermati. Kerugian di Singapura yang melampaui S$4 miliar sejak 2019 menunjukkan mengapa pemerintah tertarik menggandeng pengembang teknologi. Di sisi lain, fitur Google tidak seragam: Enhanced Protection hanya tersedia di perangkat tertentu, sehingga pengguna ponsel di luar daftar itu dapat tertinggal dalam hal perlindungan. Bagaimana pendekatan serupa diterapkan di pasar lain, termasuk Indonesia, belum dijelaskan dalam bahan yang tersedia.