GoTo Rilis LLM 27 Miliar Parameter di Bali Tech Week, Terbuka dan Gratis
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk meluncurkan model bahasa besar berkapasitas 27 miliar parameter di Bali Tech Week, Sanur, Denpasar. Model itu dirancang memahami empat bahasa daerah dan dibuka gratis untuk publik. Peluncuran berlangsung pada pekan pertama Bali Tech Week yang digelar 19–23 Oktober 2026.
Poin kunci
- GoTo meluncurkan LLM berparameter 27 miliar di Bali Tech Week, Sanur, Denpasar, dengan lisensi open source dan akses gratis untuk publik.
- Model tersebut dirancang untuk memahami bahasa daerah Jawa, Sunda, Bali, dan Batak, dan pelatihannya melibatkan mahasiswa dari tujuh kampus, termasuk Universitas Udayana.
- Server kampus atau startup dapat menjalankan model ini secara mandiri tanpa menyewa pusat data mahal.
- Bali Tech Week 2026 menghimpun 13 kegiatan dan lebih dari 900 pertemuan bisnis yang mempertemukan startup, investor, serta perusahaan teknologi.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk memperkenalkan model bahasa besar (LLM) berkapasitas 27 miliar parameter dalam Bali Tech Week di Sanur, Denpasar. Model itu disediakan secara open source dan gratis bagi publik.
Pengembang merancang model ini agar mampu memahami bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak. Proses pelatihannya melibatkan mahasiswa dari tujuh kampus, termasuk Universitas Udayana.
Dari sisi infrastruktur, ukuran 27 miliar parameter memungkinkan server milik kampus atau startup menjalankannya sendiri, tanpa perlu menyewa pusat data yang mahal. Pengguna yang disasar pun luas. "Siapa saja, mulai dari startup lokal di Bali, pelaku bisnis, kampus, institusi publik, hingga UMKM, dipersilakan untuk memanfaatkannya," kata Hans Patuwo, CEO Grup GoTo.
Peluncuran ini berlangsung di tengah perhelatan yang berjalan pada 19–23 Oktober 2026 di Bali Beach Convention Center, Sanur. Edisi perdana Bali Tech Week 2026 itu dibuka oleh Kementerian Komunikasi dan Digital pada Senin (19/10).
Penyelenggara menghimpun 13 kegiatan teknologi yang ditujukan memperkuat ekosistem digital, menarik investasi, dan menggerakkan ekonomi digital nasional. Tema yang diusung ialah "Archipelago Ascending — Advance Together, Innovate Further", atau "Kepulauan Bangkit — Maju Bersama, Berinovasi Lebih Jauh".
Kementerian menyebut acara ini telah mempertemukan startup, investor, dan perusahaan teknologi lewat lebih dari 900 pertemuan bisnis. Rata-rata 1.800 peserta hadir setiap hari, 27 persen di antaranya dari luar negeri, dengan keterwakilan lebih dari 35 negara. Lebih dari 200 pembicara, 80 startup, dan 100 investor ikut terlibat, didukung 13 mitra penyelenggara.
Sebelum acara dimulai, target peserta dipatok di atas 4.000 orang, termasuk 1.000 delegasi mancanegara dari lebih dari 30 negara.
Di panggung pembukaan, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menguraikan tiga arah transformasi digital nasional. Ia memaparkan bahwa pengguna internet Indonesia kini sekitar 235 juta jiwa, atau 81,72 persen penduduk, sementara jaringan 4G menjangkau 98,96 persen populasi. "Kita masih punya pekerjaan rumah. Karena prinsip no one left behind, inklusivitas mengharuskan kita mencapai 100 persen," ujar Meutya.
Meutya juga menekankan arah kebijakan yang berpihak pada hasil nyata. "Tugas utama kita tidak lagi hanya membangun konektivitas Indonesia, tetapi juga memastikan konektivitas itu diterjemahkan menjadi pertumbuhan, baik ekonomi, masyarakatnya, maupun perbaikan layanan publik," katanya. Soal perlindungan, ia berpendapat, "Pada ujungnya, inovasi harus mampu melindungi masyarakat, dan melindungi perusahaan dengan memberikan kepastian regulasi".
Dalam ekosistem Garuda Spark, 178 program telah menjangkau lebih dari 15.700 talenta digital. Ekosistem itu membina 80 startup, menggandeng 80 mitra, dan mencatat investasi lebih dari Rp429,5 miliar.
Program HUB.ID, yang mempertemukan startup, investor, dan perusahaan, disebut sebagai bentuk kolaborasi konkret untuk menjembatani inovasi dengan kebutuhan bisnis.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Peluncuran model berparameter 27 miliar ini dapat dibaca bersama sejumlah fakta lain dalam bahan. Pertama, model tersebut dibuka secara gratis dan bisa dijalankan di server kampus atau startup tanpa pusat data mahal. Bila klaim itu bertahan dalam pemakaian nyata, hambatan biaya bagi pengembang kecil berpotensi menurun. Kedua, pelatihan yang melibatkan mahasiswa tujuh kampus dan fokus pada bahasa Jawa, Sunda, Bali, dan Batak menjadi pertanyaan menarik: sejauh mana kemampuan bahasa daerah ini kelak dimanfaatkan layanan yang menjangkau pengguna di luar penutur bahasa utama.
Konteks panggungnya juga patut dicermati. Pemerintah menyebut penetrasi internet sudah 81,72 persen dan 4G menjangkau 98,96 persen populasi, sementara Meutya mengakui inklusivitas masih harus mencapai 100 persen. Dalam kerangka itu, model terbuka untuk bahasa daerah dapat menjadi salah satu jalan memperluas manfaat layanan digital. Namun, bahan belum memuat data pemakaian, hasil uji kualitas, maupun rencana pemeliharaan model, sehingga seberapa jauh dampaknya terhadap startup dan UMKM masih perlu dibuktikan setelah acara usai.
- #GoTo
- #LLM
- #Bali Tech Week
- #Model Bahasa Besar
- #Teknologi