EyRIS Hadirkan Skrining Retina Berbasis AI, Bisa Dipakai di Puskesmas hingga Toko Optik

Redaksi Bit Nusantara ·

Close-up menara server di pusat data dengan pencahayaan biru dan merah.
Ilustrasi · Foto: panumas nikhomkhai / Pexels

TL;DR · Ringkasan

PT Nova Prima Utama memperkenalkan EyRIS, skrining retina berbasis kecerdasan artifisial untuk membantu mengenali risiko diabetes, penyakit ginjal kronis, dan gangguan kardiovaskular. Direktur perusahaan, Aznaib I Gindo, menyampaikan penjelasan itu di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026. Hasil pemindaian berfungsi sebagai alat bantu penyaring dan tidak menggantikan pemeriksaan medis untuk diagnosis.

Poin kunci

  • EyRIS dari PT Nova Prima Utama menganalisis foto retina untuk membantu mengenali risiko diabetes, penyakit ginjal kronis, dan gangguan kardiovaskular.
  • Model prediksi penyakit ginjal kronis berbasis gambar retina meraih AUC 0,911 pada dataset validasi SEED, tetapi angka itu tidak otomatis berlaku untuk semua fitur EyRIS.
  • Pemeriksaan dapat dilakukan di Puskesmas, klinik perusahaan, atau toko optik oleh staf terlatih.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — PT Nova Prima Utama memperkenalkan EyRIS, skrining retina berbasis kecerdasan artifisial (AI) untuk membantu mengenali risiko diabetes, penyakit ginjal kronis, dan gangguan kardiovaskular lewat pemindaian mata. Penjelasan itu disampaikan Direktur PT Nova Prima Utama, Aznaib I Gindo, di Jakarta pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Menurut Aznaib, retina menyimpan pembuluh darah mikro yang dapat menggambarkan kondisi kesehatan tubuh. "Retina memberikan gambaran langsung dan non-invasif dari pembuluh darah kecil," kata Aznaib I Gindo.

EyRIS bekerja dengan memeriksa foto retina untuk menemukan perubahan pada pembuluh darah, antara lain pendarahan, penyempitan, dan pola yang abnormal. "AI EyRIS menganalisis foto retina untuk melihat perubahan seperti pendarahan, penyempitan pembuluh darah, dan pola pembuluh darah abnormal," kata Aznaib I Gindo.

Sistem ini memakai teknologi SELENA+ dan dikembangkan dengan merujuk sejumlah penelitian di bidang oftalmologi serta kesehatan digital. Salah satu landasannya adalah studi di jurnal JAMA pada 2017 yang menguji sistem pembelajaran mendalam untuk mendeteksi retinopati diabetik dan beberapa penyakit mata lain. Dataset validasi utama studi itu terdiri atas 71.896 gambar dari 14.880 pasien.

Untuk retinopati diabetik yang memerlukan rujukan, SELENA+ mencatat sensitivitas 90,5 persen dan spesifisitas 91,6 persen. Pada kasus yang mengancam penglihatan, sensitivitasnya 99 persen dengan spesifisitas 91,1 persen. Laporan lain menyebut sensitivitas 100 persen untuk kategori yang sama dalam studi JAMA tersebut.

Untuk penyakit ginjal kronis, studi di The Lancet Digital Health melaporkan AUC 0,911 bagi model berbasis gambar retina pada dataset validasi SEED. Performa model itu berbeda pada dataset pengujian eksternal sehingga hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasi.

Aznaib mengingatkan bahwa hasil riset tersebut harus dibaca sesuai konteks validasi tiap model dan tidak otomatis menggambarkan akurasi semua fitur EyRIS. Ia juga menjelaskan bahwa AUC tidak sama dengan akurasi produk, sehingga model risiko sistemik perlu divalidasi satu per satu. "Nilai ini mengukur kemampuan model untuk membedakan antara orang yang memiliki penyakit dan yang tidak," kata Aznaib I Gindo.

Hasil analisis retina diposisikan sebagai alat bantu skrining, bukan pengganti pemeriksaan medis untuk memastikan diagnosis. Skrining ini membantu menemukan orang yang perlu diperiksa lebih lanjut, tetapi tidak mengganti tes darah untuk diabetes dan penyakit ginjal ataupun pemeriksaan jantung yang sesuai.

Teknologi ini berpotensi memperluas jangkauan skrining ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pemeriksaannya dapat dijalankan di Puskesmas, klinik perusahaan, maupun toko optik oleh staf yang telah dilatih.

Penerapannya masih menghadapi sejumlah hambatan. "Nilai utamanya berasal dari kemampuan menghubungkan skrining dengan penanganan tepat waktu serta membuktikan hasil kesehatan yang lebih baik dengan biaya yang berkelanjutan," kata Aznaib I Gindo.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Pernyataan Aznaib bahwa angka riset harus dibaca menurut konteks validasinya patut dicermati. Angka sensitivitas dan spesifisitas SELENA+ berasal dari studi JAMA yang berfokus pada retinopati diabetik. Adapun AUC 0,911 menyangkut model penyakit ginjal kronis pada dataset SEED dan tidak dapat dipindahkan begitu saja ke fitur lain. Pembaca yang melihat deretan angka tinggi perlu memahami bahwa tiap angka menjawab pertanyaan yang berbeda.

Potensi jangkauan ke wilayah 3T dapat bernilai bila syaratnya terpenuhi. Akses ke Puskesmas dan toko optik memang membuka peluang, tetapi biaya kamera fundus, ketersediaan internet untuk layanan cloud, dan mekanisme pembiayaan serta rujukan masih menjadi ganjalan. Karena skrining ini tidak menggantikan tes darah maupun pemeriksaan jantung, manfaatnya berpotensi bergantung pada seberapa lancar pasien yang terdeteksi berisiko diarahkan ke penanganan lanjutan. Hal itu sejalan dengan penekanan Aznaib bahwa nilai utama teknologi terletak pada kemampuan menghubungkan skrining dengan penanganan tepat waktu.

  • #EyRIS
  • #PT Nova Prima Utama
  • #skrining retina
  • #kecerdasan artifisial
  • #diabetes
  • #penyakit ginjal kronis