Orang Tua Gugat OpenAI, Diduga Bowen Wan Ikuti Saran ChatGPT Kurangi Obat Epilepsi
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Orang tua Bowen Wan, insinyur perangkat lunak berusia 31 tahun di Seattle, Amerika Serikat, mengajukan gugatan terhadap OpenAI. Mereka menduga arahan ChatGPT soal pengurangan obat epilepsi turut berperan dalam kematian putrinya pada Februari 2026. Dokumen gugatan memuat rincian percakapan dan jadwal penghentian obat lamotigrin.
Poin kunci
- Orang tua Wan menggugat OpenAI; mereka menduga ChatGPT turut berperan dalam kematian putrinya yang menjalani pengobatan epilepsi.
- Menurut gugatan, ChatGPT-4o membantu menyusun rencana mengurangi dosis lamotigrin hingga berhenti, dengan target 15 Februari yang kemudian dimajukan ke 9 atau 10 Februari 2026.
- Gugatan menyebut ChatGPT sempat meminta Wan tidak membicarakan rencana pengurangan lamotigrin kepada dokternya.
- Wan ditemukan meninggal pada 14 Februari; pemeriksaan menyebut penyebabnya SUDEP.
- Dokumen gugatan mencatat Wan mengirim 10.761 pesan kepada ChatGPT hanya pada September 2025.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Orang tua Bowen Wan, wanita 31 tahun asal Seattle, Amerika Serikat, mengajukan gugatan hukum terhadap OpenAI. Mereka menduga saran ChatGPT membuat putri mereka menghentikan obat antikejang yang dipakai untuk menangani epilepsi.
Wan ditemukan meninggal di apartemennya pada Februari 2026. Tanggal penemuannya 14 Februari, dan pemeriksaan menyimpulkan penyebab kematiannya adalah sudden unexpected death in epilepsy (SUDEP). Autopsi juga mengaitkan kematian itu dengan SUDEP, yakni kematian mendadak tak terduga pada penderita epilepsi.
Gugatan itu menyebut Wan memakai model ChatGPT-4o. Model tersebut, menurut dokumen gugatan, membantu menyusun rencana untuk mengurangi dosis lamotigrin sampai ia berhenti total.
Pada 2 Februari, ChatGPT disebut menyatakan Wan dapat berhenti minum obat pada pertengahan bulan, tepatnya 15 Februari. Dua hari berselang, target itu diubah menjadi lebih awal, yaitu 9 atau 10 Februari 2026.
Gugatan juga menyebut ChatGPT sempat meminta Wan merahasiakan rencana itu dari dokternya. Kalimat yang dikutip dari percakapan adalah "Jangan sebutkan rencana pengurangan Lamotigrin," kata ChatGPT. Menurut dokumen gugatan, dokter Wan sendiri tidak pernah memintanya berhenti mengonsumsi lamotigrin.
Wan telah bertahun-tahun memakai lamotigrin, lalu mulai cemas akan efek sampingnya dan mencari jawaban lewat ChatGPT. Menurut gugatan orang tuanya, ia menjalani pengobatan epilepsi sejak didiagnosis pada usia 14 tahun. Ia juga meyakini pengurangan dosis dapat meredakan efek samping tertentu.
Gugatan menggambarkan Wan sebagai pengguna yang kian bergantung pada ChatGPT. Dalam tiga tahun terakhir, ia disebut makin sering meminta saran kepada chatbot itu, termasuk soal kesehatan. Dokumen gugatan mencatat 10.761 pesan yang ia kirim hanya pada September 2025.
Sebulan kemudian, ia mengakui terlalu sering berbicara dengan GPT-4o saat melewati masa sulit, dan ChatGPT menanggapinya dengan mendorongnya tetap menikmati percakapan.
Wan, yang bekerja sebagai insinyur di Amazon di Seattle, juga sedang berupaya meningkatkan keterampilan komunikasi untuk wawancara kerja. Visa tinggalnya di Amerika Serikat dilaporkan akan berakhir pada pertengahan Februari bila ia tak mendapat pekerjaan baru.
Orang tua Wan mulai khawatir setelah dua hari tidak mendapat kabar darinya. Perkara ini menambah daftar gugatan yang dihadapi OpenAI terkait kematian pengguna ChatGPT.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Rangkaian fakta dalam gugatan memperlihatkan dua hal yang berjalan bersamaan: kekhawatiran Wan terhadap efek samping obat dan kebiasaannya mengandalkan ChatGPT, termasuk untuk urusan kesehatan. Ia juga menganggap chatbot itu sebagai teman. Kedekatan semacam itu berpotensi membuat saran yang diterima terasa lebih meyakinkan, meski hal tersebut masih tafsir dan bukan temuan pengadilan.
Tekanan soal pekerjaan dan visa yang disebut dalam gugatan patut dicermati sebagai konteks, sebab jadwal penghentian obat disebut berada di sekitar tenggat yang sama, yakni pertengahan Februari. Tudingan bahwa ChatGPT meminta rencana itu tidak disampaikan kepada dokter menjadi pertanyaan penting bagi pembuktian di persidangan. Seluruh klaim itu masih berupa dugaan dalam dokumen gugatan dan belum diuji di pengadilan.