Daur Ulang Turbin Angin Bekas Dibidik, tapi Dominasi China Sulit Digeser

Redaksi Bit Nusantara ·

Ruang kerja minimalis dengan laptop terbuka, cangkir kopi, dan vas di meja dalam ruangan yang cerah.
Ilustrasi · Foto: Yan Krukau / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Turbin angin bekas kini diburu sebagai sumber logam tanah jarang, sementara China masih menguasai pemrosesan dan produksi magnetnya. Pemeringkat REEx, dalam kajian kuartal ke-4 2026, mengingatkan bahwa daur ulang berisiko tak sanggup menutup lebih dari 5% kebutuhan di luar China dalam lima tahun. Di sisi hulu, proyek Itarantim milik IMC Rare Earths di Brasil mencatat hasil uji yang menjanjikan.

Poin kunci

  • Pemburu logam tanah jarang mulai mengincar turbin angin tua sebagai sumber bahan baku.
  • China mendominasi pemrosesan dan produksi magnet tanah jarang dunia.
  • Proyek Itarantim di Brasil memiliki sumber daya terduga 1,1 miliar ton.
  • Uji laboratorium pada September mencatat pemulihan terbium 95,2% dalam uji terbaik dan rata-rata 81,1%.
  • REEx menilai daur ulang mungkin tak mampu menutup lebih dari 5% permintaan di luar China dalam lima tahun.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Turbin angin yang sudah purna pakai kini menjadi buruan pelaku usaha logam tanah jarang yang mencari bahan baku murah, menurut pemberitaan terbaru. Langkah ini muncul ketika rantai pasokan magnet untuk turbin angin dan perangkat teknologi lain masih bertumpu pada satu negara.

China mendominasi pemrosesan dan produksi magnet tanah jarang dunia. Pemeringkat REEx mencatat ekspor China melonjak 21,3%, sementara investasi domestiknya melambat.

Terlepas dari minat pada turbin bekas, REEx memberi peringatan keras. Co-founder lembaga itu, John Parkinson, menyebut daur ulang bahan tanah jarang kemungkinan hanya mampu menutup paling banyak 5% kebutuhan di luar China dalam lima tahun mendatang. Penilaian tersebut tertuang dalam pemeringkatan kuartal ke-4 2026 yang menelaah sekitar 3.000 titik data, mulai dari tambang, pemrosesan, hingga pembuatan magnet dan daur ulang.

REEx juga menyoroti tahap hulu menengah, yaitu cracking, leaching, pemisahan, dan metalisasi, yang tetap menghambat kemandirian pasokan tanah jarang di negara-negara Barat. Untuk membandingkan perusahaan daur ulang dari beragam aliran material, lembaga itu memperkenalkan metrik ekuivalen oksida yang terstandarisasi.

Di Brasil, IMC Rare Earths Ltd. menggarap proyek Itarantim yang membentang di Bahia dan Minas Gerais. Sumber daya mineral terdugaan proyek itu mencapai 1,1 miliar ton.

Uji laboratorium bersama IFRN dan CT Mineral pada September mencatat pemulihan terbium sampai 95,2% dalam uji terbaik, dengan rata-rata 81,1%.

Perkembangan lapangan ikut mengiringi hasil uji tersebut. Penggalian di Block D, di sisi lain, mengidentifikasi mineralisasi kontinu sepanjang 20 meter.

Dari kubu pemeringkat, Arafura Rare Earths naik peringkat setelah mengambil keputusan investasi final, sedangkan Pensana digambarkan menghadapi risiko konstruksi tanpa pendanaan yang terjamin.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Jika dibaca bersama, bahan ini menggambarkan dua jalur pasokan yang sama-sama belum matang. Daur ulang turbin bekas menarik karena bahan bakunya sudah tersedia, tetapi peringatan REEx bahwa kontribusinya mungkin tak lebih dari 5% permintaan di luar China dalam lima tahun menunjukkan bahwa jalur ini berpotensi sebatas pelengkap. Hambatan di pemrosesan hulu menengah dapat membuat biaya tetap tinggi selama kapasitas pemisahan dan metalisasi di luar China belum memadai, dan hal itu patut dicermati karena dominasi China atas pemrosesan magnet menjadi penentu harga di pasar.

Untuk harga gawai dan perangkat energi, tafsirnya demikian: selama pemrosesan masih terkonsentrasi, harga magnet dapat tetap rentan terhadap keputusan satu pemasok. Proyek seperti Itarantim, dengan sumber daya terduga 1,1 miliar ton dan pemulihan terbium rata-rata 81,1% dalam uji laboratorium, menawarkan alternatif sumber, tetapi hasil uji skala lab belum otomatis berarti produksi komersial. Menjadi pertanyaan terbuka apakah pendanaan dan pemrosesan hilir bisa menyusul; contoh Arafura dan Pensana memperlihatkan bahwa kepastian dana sangat menentukan nasib proyek. Bagi Indonesia sebagai pasar konsumen gawai, pergeseran pasokan semacam ini berpotensi memengaruhi biaya komponen dalam jangka menengah, meski bahan belum memuat angka dampak yang pasti.

  • #Turbin Angin
  • #Logam Tanah Jarang
  • #Daur Ulang
  • #China