Gen Z Tertekan Harga Naik: Doom Spending atau FOMO yang Menguras Dompet?
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Generasi Z menghadapi tekanan ekonomi dari naiknya harga kebutuhan pokok, pendapatan yang terbatas, dan ketatnya persaingan kerja, menurut pemberitaan pekan ini. Seorang ekonom Indef menilai penghematan saja tidak memadai bila penghasilan stagnan, sementara sumber lain menawarkan pembagian gaji 10-20-30-40 untuk menekan pengeluaran impulsif.
Poin kunci
- Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5%.
- Rudini dari BCA Digital menilai masalah utama generasi muda terletak pada lemahnya pengendalian diri, bukan ketiadaan ilmu keuangan.
- Formula alokasi gaji yang direkomendasikan adalah 10-20-30-40: 40% kebutuhan pokok, 20% tabungan, 30% cicilan, dan 10% hobi.
- Sebuah artikel yang terbit 19 Oktober 2026 memuat delapan kebiasaan gaya hidup Islami bagi Gen Z.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Kenaikan harga kebutuhan pokok, pendapatan yang terbatas, dan persaingan kerja yang ketat kini menjadi tekanan bersama bagi Generasi Z. Di tengah kondisi itu, perilaku belanja kelompok usia muda, dari belanja impulsif karena cemas hingga belanja karena takut tertinggal tren, kembali dibahas dalam sejumlah tulisan pekan ini.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5%. Pernyataan itu ia sampaikan saat dihubungi pada Jumat, 16 Oktober.
Menurut Rizal, upaya berhemat tidak akan cukup jika penghasilan jalan di tempat sementara biaya hidup terus naik. "Penghematan saja tidak cukup apabila pendapatan stagnan sementara biaya hidup meningkat. Kuncinya adalah meningkatkan daya saing dan kapasitas penghasilan secara berkelanjutan," kata Rizal.
Dari sisi perilaku, sebuah tulisan di Kompasiana mengangkat istilah FOMO dan doom spending, dua kebiasaan belanja yang disebut sebagai jebakan bagi anak muda.
Rudini dari BCA Digital berpendapat bahwa persoalan utama generasi muda bukan kekurangan pengetahuan soal uang, melainkan pengendalian diri yang masih lemah. Artinya, literasi keuangan saja belum tentu menjamin kebiasaan belanja yang sehat.
Sebagai pegangan praktis, formula alokasi gaji 10-20-30-40 direkomendasikan. Rinciannya, 40% penghasilan dialokasikan bagi kebutuhan pokok, 20% ditabung, 30% dipakai membayar cicilan, dan 10% disisihkan untuk hobi.
Di luar urusan angka, pendekatan nilai juga ditawarkan. Sebuah artikel yang terbit pada 19 Oktober 2026 dengan penulis berinisial MBL-01 memuat delapan kebiasaan yang disarankan bagi Gen Z untuk menerapkan gaya hidup Islami. Al-Isra ayat 36 sebagai pengingat agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Jika fakta dari ketiga sumber dirangkai, tampak dua sisi persoalan yang berbeda. Sisi pertama adalah pendapatan: Rizal menekankan bahwa berhemat tidak menyelesaikan masalah ketika penghasilan stagnan dan biaya hidup meningkat. Sisi kedua adalah perilaku: Rudini menilai kendala generasi muda ada pada pengendalian diri, bukan pada kurangnya pengetahuan. Keduanya dapat dibaca sebagai pelengkap, sebab disiplin belanja berpotensi hanya menunda tekanan bila pendapatan tidak ikut tumbuh.
Rumus 10-20-30-40 patut dicermati dari kacamata ekonomi rumah tangga. Alokasi 40% untuk kebutuhan pokok dan 30% untuk cicilan memperlihatkan bahwa porsi terbesar penghasilan sudah terikat pada kewajiban, sedangkan ruang untuk hobi hanya 10%. Dalam kondisi harga kebutuhan pokok naik, porsi 40% itu dapat terdesak lebih besar, sehingga ruang tabungan berpotensi menyempit. Karena itu, menjadi pertanyaan apakah formula tersebut cukup realistis bagi mereka yang pendapatannya terbatas. Adapun pendekatan nilai pada artikel ketiga dapat dipandang sebagai upaya menahan dorongan belanja berbasis ikut-ikutan, yang selaras dengan peringatan agar tidak mengikuti sesuatu tanpa kejelasan. Bagaimana efektivitasnya terhadap kebiasaan belanja sehari-hari belum bisa dipastikan dari bahan yang ada.
- #Gen Z
- #Doom Spending
- #FOMO
- #Ekonomi