Saham ServiceNow Anjlok 27%, CFO Tepis Anggapan AI Menggerus Software Korporat
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Saham ServiceNow merosot 27% pada Kamis, hari terburuk dalam catatan perusahaan, setelah hasil kuartal ketiga dinilai mengecewakan. CFO sekaligus Presiden ServiceNow, Gina Mastantuono, menyebut narasi bahwa AI akan mengganggu perangkat lunak perusahaan keliru. Ia menekankan bahwa kebutuhan korporasi berbeda dan AI memerlukan pagar pengaman.
Poin kunci
- Saham ServiceNow turun 27% pada Kamis, hari terburuk dalam catatan perusahaan.
- Pendapatan kuartal ketiga tumbuh lebih dari 20% menjadi $4,11 miliar, sedangkan laba disesuaikan $1,00 per saham di bawah perkiraan $1,02.
- Nilai kontrak rata-rata bersih baru dari AI naik 65%.
- Mastantuono mengatakan setiap bisnis dan industri membutuhkan harness untuk AI.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Saham ServiceNow merosot 27% pada Kamis, hari terburuk dalam sejarah catatan perusahaan, setelah hasil kuartal ketiganya mengecewakan pasar. Tak lama kemudian, CFO sekaligus Presiden ServiceNow, Gina Mastantuono, menolak anggapan bahwa AI akan mengganggu bisnis perangkat lunak perusahaan.
Pendapatan ServiceNow tumbuh lebih dari 20% menjadi $4,11 miliar pada kuartal tersebut. Angka itu hampir sama dengan estimasi analis yang dihimpun LSEG, yakni $4,10 miliar.
Meski pendapatan sesuai harapan, laba yang disesuaikan hanya $1,00 per saham, sedangkan perkiraan pasar $1,02 per saham. Selisih tipis itu menyertai penurunan harga saham yang sangat dalam.
Perusahaan perangkat lunak korporat tersebut juga sedikit menaikkan proyeksi pendapatan langganan untuk seluruh 2026, ke kisaran $15,78 miliar hingga $15,79 miliar. Kenaikan itu kecil dan tidak cukup menenangkan investor pada hari perdagangan tersebut.
Panel Quick Insights di halaman pemberitaan Seeking Alpha mencatat bahwa kejatuhan saham datang setelah perusahaan melaporkan kekurangan pada panduan cRPO dan pertumbuhan langganan. Pendapatan sendiri disebut tumbuh di atas 20%.
Di sisi lain, nilai kontrak tahunan bersih baru (nnACV) tumbuh 65% secara tahunan. Pertumbuhan itu mendorong kenaikan panduan ACV 2026, dan perusahaan menyebut adopsi AI di kalangan perusahaan makin cepat.
Angka serupa muncul dalam pemberitaan lain: nilai kontrak rata-rata bersih baru dari AI naik 65%. Data ini menunjukkan permintaan terhadap produk berbasis AI tetap tumbuh ketika saham perusahaan jatuh.
Analis Citi, Tyler Radke, menilai hasil kuartal ketiga ServiceNow kurang menyajikan potensi kenaikan, sesuatu yang tidak lazim bagi standar perusahaan itu. "Ini sedikit tidak biasa untuk standar ServiceNow, dalam hal kurangnya potensi kenaikan," kata Tyler Radke, analis Citi.
Menurut Radke, investor cemas karena investasi ServiceNow pada tim rekayasa forward-deployed yang baru dibentuk belum memberi hasil dalam waktu dekat. Tim semacam itu bekerja langsung bersama pelanggan, dan hasilnya baru terlihat setelah jeda tertentu.
"Menurut saya, kita harus menunggu sampai tahun depan untuk benar-benar melihat titik perubahan itu," kata Tyler Radke, analis Citi.
Dalam wawancara dengan Seeking Alpha, Mastantuono menyampaikan bahwa setiap bisnis dan industri memerlukan harness untuk AI. "Setiap bisnis dan industri membutuhkan harness untuk AI," kata Gina Mastantuono, Chief Financial Officer dan Presiden ServiceNow.
Ia juga memahami pentingnya pagar pengaman (guardrails) saat perusahaan hendak menerapkan solusi AI. Pandangan ini menjadi inti bantahannya: AI di lingkungan korporat tidak berjalan tanpa kerangka kendali.
Mastantuono juga menegaskan bahwa lingkungan perusahaan memiliki karakter tersendiri. "Perusahaan itu sangat berbeda," kata Gina Mastantuono, Chief Financial Officer dan Presiden ServiceNow.
Analis, menurut panel yang sama, masih melihat pertumbuhan dasar yang kuat. Pertumbuhan pendapatan kuartal keempat diperkirakan sekitar low-20%, dan untuk FY27 sekitar 19%.
Judul itu menambah bahan diskusi tentang bagaimana AI mengubah struktur biaya perusahaan perangkat lunak.
Sierra diluncurkan sekitar dua setengah tahun sebelum tulisan itu terbit.
Sierra membutuhkan enam bulan untuk menggandakan ARR dari $100 juta ke $200 juta. Lompatan berikutnya, dari $200 juta ke $400 juta, hanya memerlukan lima bulan.
Pada kuartal ketiga saja, Sierra menambah ARR lebih dari $150 juta. Tambahan dalam satu kuartal itu lebih besar daripada seluruh ARR yang dihasilkan sepanjang tahun sebelumnya.
Perusahaan tersebut kini bekerja sama dengan hampir 50% perusahaan Fortune 50.
Menurut Sierra, agen AI kini sanggup menangani interaksi yang berjalan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sambil mendatangkan pendapatan, tidak sebatas percakapan layanan sekali selesai.
Model harganya pun berbeda dari kebiasaan lama. "Anda membayar untuk hasil, bukan untuk token yang digunakan," demikian kutipan dari artikel perusahaan itu.
Dengan demikian, hari terburuk saham ServiceNow berlangsung bersamaan dengan data pertumbuhan kontrak AI yang kuat. Kontras itulah yang kini diperdebatkan pelaku pasar, sementara manajemen menegaskan bahwa kebutuhan korporasi menuntut kerangka pengendali bagi AI.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Dari kacamata ekonomi, kejatuhan 27% pada saham yang pendapatannya tumbuh lebih dari 20% dan nyaris sesuai estimasi menunjukkan bahwa pasar tampaknya menilai arah pertumbuhan, bukan hanya angka kuartalan. Kekurangan pada panduan cRPO dan pertumbuhan langganan, ditambah laba yang sedikit di bawah perkiraan, berpotensi dibaca investor sebagai tanda bahwa model langganan klasik tengah diuji. Pada saat yang sama, kenaikan nilai kontrak AI sebesar 65% patut dicermati sebagai indikasi bahwa permintaan tidak otomatis menyusut, meski belum tentu cepat terkonversi menjadi pendapatan langganan.
Pernyataan Mastantuono tentang perlunya harness dan guardrails bagi AI dapat dibaca sebagai upaya menegaskan nilai tambah vendor korporat: kepatuhan dan kendali berpotensi menjadi alasan pelanggan besar tetap membayar. Namun, pertumbuhan pesat Sierra, penyedia agen AI, serta model tarif berbasis hasil yang ditawarkannya menjadi pertanyaan bagi penetapan harga berbasis kursi atau langganan. Bila lebih banyak pembeli memilih membayar berdasarkan hasil, struktur pendapatan vendor perangkat lunak berpotensi bergeser, dan investasi pada tim forward-deployed yang baru hasilnya terlihat tahun depan bisa menjadi taruhan penting. Judul tentang CEO yang merayakan tenaga kerja yang menyusut juga mengisyaratkan bahwa efisiensi biaya akibat AI ikut masuk dalam hitungan investor, meski rincian dampaknya belum dapat dipastikan.
- #ServiceNow
- #Gina Mastantuono
- #Hasil kuartal ketiga