Riset MIT: Foto dan Video Buatan AI Bisa Menanam Ingatan Palsu
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Tim peneliti MIT yang melibatkan Pattie Maes menemukan bahwa konten rekayasa AI dapat membuat orang salah mengingat suatu peristiwa, bahkan ketika mereka merasa yakin. Temuan ini mencakup foto yang dimanipulasi dan, dalam studi tahun 2025, video deepfake serta teks buatan AI tentang skandal politik fiktif. Informasi rekayasa itu juga disebut memengaruhi niat peserta dalam memilih pada pemilu.
Poin kunci
- Peneliti MIT Pattie Maes dan timnya menemukan bahwa konten hasil AI dapat menimbulkan ingatan palsu pada manusia.
- Kelompok yang melihat foto hasil manipulasi AI lebih sering keliru mengingat foto aslinya dibandingkan kelompok pembanding.
- Studi tahun 2025 menunjukkan video deepfake dan teks AI memunculkan ingatan palsu tentang skandal politik yang tidak pernah terjadi.
- Informasi fiktif rekayasa AI turut memengaruhi niat peserta untuk memberikan suara dalam pemilu.
- Sejumlah penelitian menilai kemampuan rata-rata orang membedakan konten asli dari konten AI hampir setara dengan menebak lemparan koin.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Konten yang dibuat atau diubah kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak sekadar menipu mata, tetapi juga dapat mengubah apa yang diingat seseorang. Peneliti MIT Pattie Maes bersama timnya mengungkap bahwa materi hasil AI mampu melahirkan ingatan palsu pada manusia.
Dalam eksperimen tim MIT, peserta yang disodori foto hasil manipulasi AI lebih sering keliru menyebut isi foto aslinya. Pembandingnya adalah kelompok yang melihat foto asli tanpa campur tangan AI. Kelompok kontrol dalam studi itu menunjukkan kekeliruan yang lebih jarang.
Penelitian yang melibatkan Maes juga mencatat bahwa gambar rekayasa AI dapat memicu ingatan keliru walaupun subjek merasa yakin dengan jawabannya. Keyakinan itu menjadi salah satu sisi yang membuat temuan ini terasa mengusik: rasa percaya diri tidak menjamin ingatan tersebut benar.
Bukan hanya gambar. Sebuah riset pada 2025 mendapati bahwa video deepfake dan teks buatan AI dapat membuat peserta mengingat skandal politik yang sebenarnya tidak pernah ada. Skandal itu bersifat fiktif, tetapi ingatan yang terbentuk tentangnya terasa nyata bagi para peserta.
Riset tahun 2025 itu menambahkan temuan yang lebih jauh menyentuh urusan publik. Informasi karangan yang diproduksi AI turut mempengaruhi niat peserta saat memutuskan untuk memberikan suara dalam pemilihan umum. Temuan serupa dilaporkan di media lain, yakni bahwa muatan rekayasa AI berdampak pada kecenderungan peserta dalam hal pemungutan suara.
Kesulitan membedakan konten asli dan konten AI memperberat persoalan. Sejumlah penelitian menunjukkan peluang rata-rata orang menebak dengan benar tidak jauh berbeda dari peluang menebak sisi koin yang dilempar. Artinya, menyaring konten dengan mata telanjang belum tentu bisa diandalkan.
Sebagian organisasi mencoba menekan risiko kesalahan lewat pendekatan human in the loop, yaitu melibatkan manusia untuk memeriksa keluaran AI sebelum dipakai. Pendekatan ini ditujukan pada kesalahan sistem, bukan pada ingatan pengguna yang terpapar konten rekayasa.
Di sisi lain, sistem AI juga dapat menghasilkan halusinasi, yakni informasi keliru yang disampaikan dengan bahasa lancar dan meyakinkan. Gabungan antara tampilan visual yang mulus dan susunan kalimat yang meyakinkan membuat keluaran semacam itu mudah diterima begitu saja.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Jika dirangkai, temuan di bahan membentuk satu rantai yang patut dicermati. Foto yang dimanipulasi AI dapat menggeser ingatan orang tentang foto asli, dan subjek tetap merasa yakin. Pada studi 2025, rekayasa serupa melalui video deepfake dan teks AI berpotensi menanam ingatan tentang skandal politik yang tidak pernah terjadi. Karena kesalahan ingatan itu disertai rasa percaya diri, koreksi dari luar dapat menjadi lebih sulit diterima.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah arah pengaruhnya terhadap sikap politik. Bahan menyebut informasi fiktif buatan AI ikut memengaruhi niat peserta untuk memberikan suara. Bila kemampuan orang membedakan konten asli dan konten AI memang hanya setara menebak lemparan koin, celah ini berpotensi dimanfaatkan menjelang kontestasi pemilu. Pemeriksaan oleh manusia seperti pada pendekatan human in the loop dapat membantu menekan kesalahan keluaran AI, tetapi bahan tidak menunjukkan bahwa langkah itu cukup untuk melindungi ingatan publik yang telanjur terpapar. Karena itu, kebiasaan memverifikasi sumber sebelum mempercayai atau menyebarkan gambar, video, dan teks yang menggugah emosi dapat menjadi benteng awal yang sederhana.
- #MIT
- #Deepfake
- #Ingatan Palsu
- #Pattie Maes