Minat Naik, Pembelian Turun: Skeptik EV Minta 500 Mil, Sinyal Risiko bagi Ekosistem Mobil Pintar?
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Survei JD Power menunjukkan 26% pembeli mobil dalam survei itu "sangat mungkin" mempertimbangkan kendaraan listrik, naik tiga poin persentase dari bulan sebelumnya, ketika harga bensin menembus $4,50 per galon. Namun penjualan mobil listrik baterai di AS tahun ini baru 6-7%, di bawah sekitar 8% pada 2024 dan 2025. Hampir tiga perempat kelompok paling skeptis menuntut jarak tempuh minimal 500 mil.
Poin kunci
- Sebanyak 26% pembeli mobil mengaku 'sangat mungkin' mempertimbangkan EV, naik tiga poin persentase dari bulan sebelumnya.
- Penjualan mobil listrik baterai di AS tahun ini berkisar 6-7%, turun dari sekitar 8% pada 2024 dan 2025.
- Hampir tiga perempat responden yang paling tidak mungkin membeli EV menuntut jarak tempuh minimal 500 mil, padahal rata-rata orang Amerika hanya menempuh 2-3 perjalanan darat per tahun sejauh 200-300 mil.
- Pendaftaran EV di AS pada Januari turun 41% menjadi 59.802 unit, dengan pangsa pasar 5,1% dibanding 8,3% setahun sebelumnya.
- Seorang pemilik Chevrolet Blazer EV bekas dengan jarak tempuh EPA 279 mil memilih tidak kembali ke mobil bensin.
Survei JD Power mencatat 26% pembeli mobil menyatakan "sangat mungkin" mempertimbangkan pembelian kendaraan listrik, naik tiga poin persentase dari bulan sebelumnya.
Kenaikan minat itu berlangsung di tengah harga bensin yang kini lebih dari $4,50 per galon, dibanding hampir tiga dolar sebelum konflik dengan Iran. Meski begitu, penjualan mobil listrik baterai di AS tahun ini berkisar 6-7%, turun dari sekitar 8% pada 2024 dan 2025.
Brent Gruber, direktur eksekutif praktik EV di JD Power, mengaku terkejut dengan tingkat pertimbangan tersebut. "Saya benar-benar sedikit terkejut dengan tingkat pertimbangan ini setelah penghentian kredit pajak federal," kata Brent Gruber.
Gruber juga menyoroti jarak antara minat dan transaksi. "Anda harus mencoba menyelaraskan: Mengapa begitu banyak orang tertarik pada produk ini, tetapi begitu sedikit yang benar-benar membelinya?" kata Gruber.
Kredit pajak federal sebesar $7.500 untuk pembelian EV dihapus pada 30 September 2025. Setelah itu, pendaftaran kendaraan listrik di AS pada Januari anjlok 41% menjadi 59.802 unit. Pangsa pasar EV pada bulan tersebut menyusut menjadi 5,1% dari 8,3% pada Januari tahun sebelumnya.
Penurunan itu tidak merata. Pendaftaran EV Lexus melonjak 166%, Maserati naik 140% dengan 810 unit terjual, Lucid naik 97%, Toyota naik 25%, dan Cadillac naik 8,1%. Tom Libby, analis di S&P Global Mobility, menyebut kondisi ini sebagai penyesuaian. "Itu yang kami harapkan. Ini adalah reset, dan akan menjadi proses yang sangat lambat ke depan," ujar Tom Libby.
Survei JD Power juga merinci apa yang dituntut kelompok paling skeptis.
Gruber menilai persoalan lain ada pada informasi. "Ada pengisi daya publik di mana-mana, tetapi konsumen tidak tahu hal itu," kata Gruber.
Di sisi pengguna, ada pula cerita yang berlawanan dengan sikap skeptis. Seorang penulis InsideEVs yang sebelumnya menyewa Chevrolet Blazer EV selama dua tahun akhirnya membeli unit bekas serupa dengan harga kurang dari 24.000 dolar. Harga pembelian setelah masa sewa, menurut penulis itu, sekitar 18.000 dolar di atas nilai pasar.
Penulis tersebut mengaku pernah memiliki 13 hingga 14 kendaraan mesin pembakaran internal dalam tujuh tahun terakhir. Ia menyebut Ford Escape milik tunangannya, dengan jarak tempuh 40.000 mil, bermasalah yang diduga akibat busi kotor. Blazer EV yang dibelinya berjarak tempuh 17.000 mil, memiliki jarak tempuh EPA 279 mil, ground clearance 8 inci, dan masih memiliki enam tahun garansi baterai.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Sudut yang patut dicermati bagi pembaca Bit Nusantara adalah kaitannya dengan ekosistem gawai dan aplikasi mobil pintar. Tafsir ini bersifat dugaan, sebab bahan tidak memuat data soal aplikasi atau perangkat di dalam mobil.
Tuntutan jarak tempuh 500 mil dari kelompok skeptis, yang kontras dengan pola perjalanan jauh 200-300 mil dalam riset JD Power, mengisyaratkan bahwa hambatan pembelian tidak semata soal spesifikasi. Pernyataan Gruber bahwa konsumen tidak tahu soal keberadaan pengisi daya publik dan kisah pemilik Blazer EV yang justru mantap bertahan dengan jarak tempuh 279 mil dapat menjadi petunjuk bahwa persepsi turut berperan. Apakah penyelarasan persepsi itu mampu menjembatani minat dan pembelian menjadi pertanyaan terbuka, terlebih analis S&P Global Mobility memperkirakan prosesnya berjalan sangat lambat.
- #JD Power
- #kendaraan listrik
- #InsideEVs
- #penjualan mobil
- #jarak tempuh