Teleskop NASA Swift Diperkirakan Jatuh 4 November, Jalur Puingnya Mencakup Indonesia

Redaksi Bit Nusantara ·

Pemotretan dekat grayscale dari papan sirkuit elektronik dengan kapasitor dan transistor.
Ilustrasi · Foto: Sergei Starostin / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Observatorium Neil Gehrels Swift milik NASA diperkirakan memasuki kembali atmosfer Bumi pada Rabu, 4 November 2026, setelah upaya penyelamatan gagal. Jalur jatuhnya mencakup Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tetapi sebagian besar puing kemungkinan mendarat di laut. NASA menaksir risiko bahaya bagi manusia sekitar 1 banding 2.100.

Poin kunci

  • Swift diperkirakan memasuki atmosfer pada Rabu (4/11/2026), dan Indonesia termasuk wilayah yang berpotensi dilintasi puing.
  • NASA menaksir risiko bahaya bagi manusia sekitar 1 banding 2.100.
  • Ketidakpastian waktu jatuh sekitar 11 hingga 12 jam, dengan perkiraan 15.30 WIB dari BRIN dan 16.11 WIB dari Aerospace Corporation.
  • Misi penyelamatan NASA bersama Katalyst Space gagal sehingga Swift jatuh tanpa kendali.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Observatorium antariksa Swift milik NASA diperkirakan kembali ke Bumi tanpa kendali pada Rabu (4/11/2026). Wilayah Indonesia termasuk dalam jalur yang berpotensi dilintasi puing wahana itu.

Sebagian besar area di bawah lintasan orbit berupa lautan lepas, sehingga serpihan yang selamat dari pembakaran kemungkinan besar jatuh di perairan. NASA menaksir peluang puing mencelakai manusia sekitar satu banding 2.100.

"Risiko bahaya bagi siapa pun di Bumi sangatlah kecil — sekitar 1 banding 2.100," kata NASA dalam rilis resminya.

Orbit Swift miring 20,6 derajat terhadap ekuator. Karena itu, lokasi jatuh bisa berada di rentang lintang tersebut, baik di belahan utara maupun selatan.

Selain Indonesia, koridor itu melintasi Thailand, Filipina, Singapura, dan Malaysia. Jalur yang sama juga mencakup India selatan, Afrika tengah, Australia utara, dan Amerika Selatan.

Perkiraan waktu masuk atmosfer berbeda-beda. Aerospace Corporation menyebut Rabu pukul 16.11 WIB dengan ketidakpastian sekitar 12 jam.

Data BRIN pada Selasa (3/11/2026) pukul 09.40 WIB mencatat ketinggian Swift tinggal 202 kilometer. Lembaga itu memperkirakan jatuh sekitar pukul 15.30 WIB dengan ketidakpastian sekitar 11 jam. Pemantauan U.S. Space Force juga menghasilkan angka 15.30 WIB dengan rentang ketidakpastian yang sama.

Ada pula prediksi lain dari U.S. Space Force yang menyebut teleskop jatuh pada Jumat (6/11) atau sekitar waktu itu.

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menilai peluang puing menimpa permukiman sangat kecil. "Probabilitas sampah antariksa jatuh di dekat permukiman amat sangat kecil," kata Thomas Djamaluddin.

Kepala ilmuwan misi Brad Cenko dari NASA memperkirakan sebagian besar badan teleskop, yang bobotnya sekitar satu setengah ton, habis terbakar saat menembus atmosfer. Namun, material yang lebih kuat seperti tungsten, atau sebagian cermin, mungkin bertahan. NASA juga memperkirakan beberapa komponen padat berpotensi sampai ke permukaan Bumi.

NASA dan Katalyst Space mengupayakan penyelamatan darurat sejak tahun lalu. Robot berlengan tiga bernama Link milik Katalyst Space mengalami masalah usai meluncur pada Juli. Robot itu hanya sanggup mendekat hingga 12 sampai 15 kilometer dari teleskop, lalu jatuh kembali ke Bumi pada September.

Setelah rencana penyelamatan dibatalkan, Swift sempat kembali mengamati dan merekam lebih banyak semburan sinar gamma serta peristiwa berenergi tinggi lain. Pada akhir Oktober, ketinggiannya terus menurun dan wahana itu kehilangan kestabilan, sehingga sistemnya dimatikan. Aktivitas Matahari yang terlalu intens disebut ikut mempercepat penurunan orbitnya.

John Nousek, astronom yang memimpin tim pengendali, menyebut akhir semacam ini sebagai bencana. Menurut dia, hal itu sudah disadari sejak sebelum peluncuran.

Swift meluncur pada 20 November 2004 dengan roket Delta II ke orbit rendah pada ketinggian 600 kilometer. Wahana itu dirancang bekerja dua tahun dan bertahan di orbit tujuh tahun, tetapi nyatanya bertahan jauh lebih lama. Tingginya 5,6 meter, bentang panel suryanya 4 meter, dan bobotnya 1.470 kilogram.

Swift dibuat untuk meneliti semburan sinar gamma, salah satu ledakan paling kuat di alam semesta. Selama lebih dari dua dekade, wahana ini membantu astronom memetakan aktivitas lubang hitam supermasif dan supernova. Swift juga dipakai mengamati komet dan asteroid.

Direktur Divisi Astrofisika NASA, Shawn Domagal-Goldman, menilai peran wahana itu penting. "Di masa jayanya, Swift berperan penting dalam memajukan pemahaman manusia tentang alam semesta yang berubah," kata Shawn Domagal-Goldman. Ia juga menyebut misi penyelamatan sebagai upaya berisiko tinggi. "Sejak awal, ini adalah misi berisiko tinggi. Namun, jika berhasil, imbalannya pun besar," kata Shawn Domagal-Goldman.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Perbedaan perkiraan waktu jatuh, dari 15.30 WIB hingga 16.11 WIB pada Rabu, dan prediksi lain yang menyebut Jumat (6/11), menunjukkan bahwa lokasi pendaratan puing sulit dipastikan jauh-jauh hari. Ketidakpastian 11 hingga 12 jam berpotensi membuat titik jatuh bergeser jauh karena wahana mengelilingi Bumi berkali-kali dalam rentang itu. Hal ini patut dicermati karena jalur di antara 20,6 derajat lintang utara dan selatan melintasi banyak negara, termasuk Indonesia.

Meski begitu, sebagian besar area di bawah orbit adalah laut, dan taksiran risiko 1 banding 2.100 serta penilaian Thomas Djamaluddin menggambarkan peluang yang kecil. Peristiwa ini juga dapat dibaca sebagai akibat rangkaian kegagalan: robot Link yang bermasalah, orbit yang kian rendah, dan aktivitas Matahari yang intens. Semua itu mengakhiri wahana yang semula dirancang bekerja dua tahun tetapi bertahan hampir 22 tahun.