Komet 3I/ATLAS Terbuat dari Butiran Es Kotor, Mirip Objek di Luar Neptunus

Redaksi Bit Nusantara ·

Gambar rinci dari rak server dengan lampu yang bersinar di pusat data modern.
Ilustrasi · Foto: panumas nikhomkhai / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Pengamatan Teleskop Luar Angkasa James Webb menunjukkan komet antarbintang 3I/ATLAS tersusun dari butiran es sub-mikron yang kaya debu, dan ciri kimianya menyerupai objek es di luar orbit Neptunus. Komet yang ditemukan pada 1 Juli 2025 itu diyakini terbentuk di piringan pembentuk planet di sekitar bintang muda, bukan di tata surya.

Poin kunci

  • Komet ini ditemukan pada 1 Juli 2025 lewat teleskop survei ATLAS di Chili.
  • Tiga pengamatan spektrograf dilakukan antara Agustus 2025 dan April 2026, termasuk sebelum dan sesudah titik terdekat dengan Matahari.
  • Dua kemungkinan penyebab perubahan sifat partikel diusulkan: efek panas Matahari dan pengikisan lapisan permukaan komet.
  • Komet ini melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar menurut data SPHEREx dan JWST.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Komet antarbintang 3I/ATLAS ternyata dibangun dari butiran es kecil yang bercampur banyak debu. Temuan itu diperoleh para ilmuwan lewat Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) dan menunjukkan karakter yang berbeda dari komet asli tata surya.

Butiran es pada 3I/ATLAS berukuran kurang dari satu mikron. Pemodelan fisik menyimpulkan butiran itu "kotor" karena kaya debu, sementara butiran es pada komet tata surya jauh lebih bersih.

Model komputer yang sama menggambarkan material komet sebagian besar sebagai gumpalan partikel es sekitar satu mikrometer atau lebih kecil dengan banyak debu di dalamnya. Tim peneliti dipimpin Southwest Research Institute (SwRI), dengan Silvia Protopapa sebagai penulis utama.

Jejak kimia yang ditangkap JWST banyak bersesuaian dengan benda es di wilayah jauh di luar orbit Neptunus. Kemiripan itu juga tampak pada objek trans-Neptunian (TNO) berukuran sedang yang kaya es karbon dioksida dan senyawa organik.

Spektrum es komet lazimnya menampilkan pita serapan kuat di sekitar 3 mikrometer, disertai dua pita yang lebih lemah di sekitar 1,5 dan 2 mikrometer. Pada 3I/ATLAS, pita 3 mikrometer tampak jelas, sedangkan dua pita lainnya lemah sampai hampir lenyap. Instrumen inframerah-dekat JWST mencatat bahwa pita air-es pada tiga mikron tetap kuat.

"Kombinasi tersebut merupakan sebuah teka-teki," kata Silvia Protopapa.

Pengamatan dilakukan tiga kali, sejak Agustus 2025 hingga April 2026, mencakup masa sebelum dan sesudah komet melewati titik terdekat dari Matahari. Pada April 2026, ketika komet menjauh dari Matahari, JWST mendeteksi kelompok partikel es yang lebih besar dan lebih kaya es, tetapi masih berukuran sekitar satu mikrometer.

Para peneliti mengusulkan dua penjelasan atas perubahan itu, yakni efek panas Matahari pada tahap orbit yang berbeda dan pengikisan lapisan permukaan komet.

"Kami merancang [JWST] agar siap pada saat komet antar-bintang aktif ditemukan dan mengikutinya dari waktu ke waktu," kata Martin Cordiner dari NASA's Goddard Space Flight Center, ko-penulis studi.

Para ilmuwan meyakini komet ini lahir di piringan gas dan debu pembentuk planet di sekitar bintang muda. Bintang itu mungkin berusia 10 hingga 12 miliar tahun, lebih dari dua kali umur tata surya. Studi terdahulu juga menyiratkan komet ini terbentuk sangat awal dalam sejarah alam semesta. Peneliti memastikan komet tidak terbentuk di tata surya, tetapi bintang asalnya belum diketahui secara pasti.

3I/ATLAS adalah objek antarbintang ketiga yang teridentifikasi melintasi tata surya, menyusul 1I/ʻOumuamua pada 2017 dan 2I/Borisov pada 2019. Komet itu ditemukan pada 1 Juli 2025 oleh teleskop survei ATLAS di Chili. Menurut data NASA, titik terdekatnya dengan Matahari dicapai pada 30 Oktober 2025 pada jarak sekitar 210 juta kilometer.

Lintasan dan kecepatannya menunjukkan objek ini tidak terikat gravitasi Matahari. Berbeda dari komet tata surya yang mengorbit Matahari, komet antarbintang hanya singgah sekali.

Selain temuan butiran es, komposisi gasnya juga tidak lazim. Data observatorium antariksa SPHEREx milik NASA dan JWST menunjukkan pelepasan karbon dioksida dalam jumlah besar. Banyak komet tata surya didominasi uap air saat mendekati Matahari, sedangkan komet ini tidak demikian. Salah satu dugaan penyebabnya adalah lapisan es kaya karbon dioksida di permukaan inti.

Para astronom juga mendeteksi sianida serta indikasi nikel dan besi di sekitar komet.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Gambaran dari beberapa pengamatan saling melengkapi. Butiran es kotor yang mirip objek di luar orbit Neptunus, ditambah gas karbon dioksida yang melimpah, berpotensi menunjukkan bahwa bahan pembentuk komet di sekitar bintang lain tidak jauh berbeda dari bahan di tepi tata surya. Karena itu, penelitian ini dapat membantu memahami bagaimana planet terbentuk di sekitar bintang yang jauh.

Perubahan sifat partikel antara pengamatan Agustus 2025 dan April 2026 patut dicermati. Bila efek panas Matahari atau pengikisan permukaan memang berperan, pengamatan berulang seperti ini dapat membedakan sifat bawaan komet dari sifat yang berubah akibat perjalanannya. Keterbatasannya, bintang asal komet belum diketahui pasti, sehingga kaitan komposisi dengan lingkungan kelahirannya masih menjadi pertanyaan terbuka.

  • #3I/ATLAS
  • #komet antarbintang
  • #piringan pembentuk planet