Rp 1,28 Triliun untuk Satu Orang Satu Rekening, Tanpa HP Gratis

Redaksi Bit Nusantara ·

Wanita menjual produk segar di pasar yang sibuk di Pontianak, Indonesia.
Ilustrasi · Foto: Rizky Rianto / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah menyiapkan Rp 1,28 triliun untuk program Satu Orang Satu Rekening bagi sekitar 25 juta warga, dengan setoran awal Rp 50.000 per rekening. Airlangga menegaskan tidak ada rencana membagikan telepon seluler gratis, berbeda dengan pernyataan Hashim Djojohadikusumo sebelumnya. Anggaran ini turun 66,32 persen dari rencana awal Rp 3,8 triliun.

Poin kunci

  • Anggaran Rp 1,28 triliun disiapkan untuk program Satu Orang Satu Rekening, dengan setoran awal Rp 50.000 per rekening baru.
  • Anggaran turun 66,32 persen dari rencana awal Rp 3,8 triliun, karena warga desil 1-4 yang belum punya rekening ditemukan 25 juta orang, jauh di bawah sasaran awal 74 juta.
  • Airlangga menegaskan tidak ada rencana pembagian HP gratis, setelah Hashim Djojohadikusumo menyebut ponsel akan dilengkapi rekening bersaldo awal Rp 50 ribu.
  • Survei OJK 2026 mencatat inklusi keuangan 93,61 persen dan literasi keuangan 69,57 persen; program ditargetkan mendorong inklusi mendekati 99 persen.
  • Rekening akan dipakai menyalurkan stimulus Rp 31 triliun, termasuk beras Rp 17,55 triliun dan subsidi upah Rp 300.000 per bulan untuk 13,3 juta pekerja, mulai kuartal IV 2026.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Pemerintah mengalokasikan Rp 1,28 triliun bagi program Satu Orang Satu Rekening, kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Setiap rekening baru akan mendapat setoran awal Rp 50.000.

Penerima yang disasar berjumlah sekitar 25 juta orang, yakni warga di atas 17 tahun dari kelompok desil 1 sampai 4. Pemerintah menargetkan tingkat inklusi keuangan naik dari 93 persen ke level mendekati 99 persen.

"Dengan program Satu Orang Satu Rekening ini, inklusivitas keuangan kita mendekati 99 persen. Jadi naik dari 93 persen menjadi 99 persen," kata Airlangga.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK 2026 menempatkan inklusi keuangan Indonesia di angka 93,61 persen, sedangkan literasi keuangan tercatat 69,57 persen.

Anggaran program ini jauh lebih kecil dari rencana semula. Angkanya turun 66,32 persen dari target awal Rp 3,8 triliun. Sasaran awal mencakup 74 juta warga, sementara hasil pendataan menemukan 25 juta warga desil satu sampai empat yang belum punya rekening.

Data calon penerima disiapkan Bank Rakyat Indonesia dan Bank Syariah, bersumber dari Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional milik Badan Pusat Statistik serta data Lembaga Penjamin Simpanan.

Di sisi lain, Airlangga menegaskan tidak ada rencana pembagian telepon seluler gratis. Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebut ponsel yang dilengkapi rekening bersaldo awal Rp 50 ribu akan dibagikan guna mendukung penyaluran bantuan sosial.

"Setiap warga negara akan diberikan ponsel yang dilengkapi rekening digital. Seluruh dana akan tersedia di sana dan dikirimkan ke rekening masing-masing," kata Hashim. Airlangga menyatakan telah berbicara dengan Hashim dan maksudnya bukan seperti itu. "Kalau saya sudah bicara Pak Hashim, enggak bicara begitu, maksudnya bukan itu," ujarnya.

Sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia, bantuan tunai ke depan akan dikirim Kementerian Keuangan langsung ke rekening digital di ponsel penerima manfaat.

Rekening baru itu diintegrasikan untuk menyalurkan stimulus ekonomi senilai Rp 31 triliun. Di dalamnya terdapat bantuan beras Rp 17,55 triliun untuk 33,24 juta keluarga serta subsidi upah Rp 300.000 per bulan bagi 13,3 juta pekerja. Penggunaan rekening yang sama untuk menyalurkan bantuan direncanakan mulai kuartal IV 2026.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut program ini berawal dari evaluasi Presiden Prabowo Subianto atas banyaknya perputaran uang warga yang belum tercatat di perbankan formal.

"Nah, ini kami akan dorong untuk efektivitas penyaluran bantuan dan kegiatan produktif, jadi bukan soal hanya pembukaan rekening," kata Airlangga.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Dari sisi anggaran, Rp 1,28 triliun untuk 25 juta orang dengan setoran Rp 50.000 per rekening berpotensi dibaca sebagai biaya kecil dibanding stimulus Rp 31 triliun yang hendak dialirkan lewat rekening-rekening itu. Penyusutan dari Rp 3,8 triliun sejalan dengan temuan pendataan bahwa jumlah warga yang memenuhi kriteria lebih sedikit dari sasaran awal 74 juta. Karena itu, ketepatan data penerima menjadi pertanyaan penting: program berskala besar hanya efisien bila daftar penerimanya akurat.

Soal gawai, bantahan Airlangga mengisyaratkan tidak ada komponen perangkat dalam rencana ini. Penyaluran digital berpotensi bergantung pada ponsel yang sudah dimiliki penerima, dan ini patut dicermati karena pernyataan Hashim tentang ponsel berrekening dan penjelasan Airlangga belum sejalan. Bahan juga belum menjelaskan bagaimana penerima yang belum punya ponsel akan mengakses rekening digital. Bila inklusi keuangan naik mendekati 99 persen, pencatatan transaksi yang lebih luas dapat membuka ruang bagi pencatatan aktivitas ekonomi yang sebelumnya di luar sistem formal, sebagaimana latar yang disebut Tito. Dampaknya terhadap penerimaan negara tidak dijelaskan dalam bahan dan menjadi pertanyaan terbuka.

  • #Airlangga Hartarto
  • #Satu Orang Satu Rekening
  • #Hashim Djojohadikusumo
  • #CNN Indonesia