BRI Ingatkan Nasabah: Jangan Beri Kode OTP ke Penelepon, Siapa Pun yang Mengaku Petugas Bank
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Bank Rakyat Indonesia memperingatkan nasabah soal penipuan lewat telepon atau voice phishing yang mengincar kode OTP dan data rahasia rekening. Imbauan yang disampaikan Corporate Secretary BRI Dhanny itu memuat lima langkah pencegahan bagi nasabah.
Poin kunci
- BRI menegaskan tidak pernah meminta PIN, password, User ID, kode OTP, maupun kode CVV/CVC kartu lewat telepon atau sarana komunikasi lainnya.
- Pelaku menyamar sebagai petugas bank, mengabarkan transaksi mencurigakan, menawarkan pemblokiran rekening sementara, lalu meminta kode OTP dengan dalih pengamanan.
- Nasabah diminta mengakhiri panggilan mencurigakan dan memverifikasi sendiri lewat kanal resmi BRI.
- Aktivitas rekening dianjurkan dipantau berkala di aplikasi BRImo dengan notifikasi transaksi aktif.
- Nasabah yang telanjur memberikan informasi rahasia diminta segera melapor; pengaduan dapat lewat Contact BRI 1500017.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Bank Rakyat Indonesia (BRI) meminta nasabah waspada terhadap penipuan lewat panggilan telepon yang menyasar data rahasia perbankan, terutama kode OTP. Pelaku berpura-pura sebagai petugas bank.
"BRI tidak pernah meminta nasabah memberikan PIN, password, User ID, kode OTP, maupun kode CVV/CVC kartu melalui telepon atau sarana komunikasi lainnya," kata Dhanny, Corporate Secretary BRI.
Pola yang kerap dipakai penipu berjalan bertahap. Penelepon lebih dulu mengabarkan adanya transaksi mencurigakan di rekening, lalu menawarkan pemblokiran sementara. Setelah itu korban diminta menyebutkan kode OTP dengan dalih proses pengamanan rekening.
Kode OTP termasuk data rahasia yang tidak boleh diberikan kepada siapa pun. Pelaku dapat memanfaatkannya untuk mengakses rekening dan bertransaksi tanpa sepengetahuan pemilik. Modus voice phishing atau vishing ini bertujuan memperoleh informasi pribadi dan data rahasia perbankan nasabah.
Penipu biasanya membangun kepercayaan dengan bahasa yang sopan dan meyakinkan, sambil menciptakan situasi mendesak agar korban panik dan mengikuti instruksi tanpa verifikasi. Dengan begitu, nasabah tidak punya waktu memeriksa kebenaran informasi.
BRI mengimbau lima langkah pencegahan. Pertama, tidak memberikan OTP, PIN, password, atau data rahasia kepada siapa pun. Kedua, tidak terburu-buru mengikuti instruksi penelepon. Ketiga, segera mengakhiri panggilan yang mencurigakan lalu memeriksa sendiri lewat kanal resmi. Keempat, memantau rekening berkala di aplikasi BRImo dan mengaktifkan notifikasi transaksi. Kelima, segera melapor bila telanjur memberikan informasi rahasia atau menemukan transaksi tak dikenal.
Nasabah juga diminta mengunduh dan memperbarui aplikasi hanya dari sumber resmi, serta tidak mengikuti tautan atau arahan pemasangan aplikasi dari pihak yang mengatasnamakan bank.
"Waspadai setiap komunikasi yang mengatasnamakan BRI, terutama apabila disertai permintaan data rahasia atau arahan untuk mengakses tautan tertentu," ujar Dhanny. Ia menyatakan BRI terus memperkuat sistem keamanan dan edukasi kepada nasabah.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Peringatan ini patut dicermati karena penipuan lewat telepon bertumpu pada kepanikan korban. Karena itu, aturan sederhana bahwa OTP tidak untuk dibagikan kepada siapa pun dapat menjadi benteng yang murah.
Ketegasan BRI bahwa mereka tidak pernah meminta PIN, kode OTP, atau kode CVV/CVC lewat telepon memberi nasabah ukuran yang jelas: permintaan semacam itu patut dianggap tanda penipuan, seberapa pun sopan dan meyakinkan nada penelepon. Langkah mengakhiri panggilan lalu memverifikasi lewat kanal resmi juga menutup ruang yang paling dimanfaatkan pelaku, yaitu tekanan waktu. Pemantauan rekening di BRImo dengan notifikasi transaksi berpotensi membantu nasabah menyadari kejanggalan lebih awal.
- #BRI
- #Bank Rakyat Indonesia
- #voice phishing
- #kode OTP
- #Dhanny