The Fed Tahan Suku Bunga, Tekanan pada Rupiah dan IHSG Mencuat

Redaksi Bit Nusantara ·

Kumpulan profesional bisnis yang beragam dalam pertemuan strategis membahas dokumen dan grafik.
Ilustrasi · Foto: Vlada Karpovich / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Keputusan ini memicu penguatan indeks dolar AS dan memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah serta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar domestik. Sinyal kebijakan moneter AS ke depan menunjukkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika kondisi ekonomi tidak sesuai ekspektasi.

Poin kunci

    JAKARTA, BIT NUSANTARA —

    Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober 2026.

    Dalam konferensi pers, Warsh menegaskan bahwa bank sentral tidak bersedia dan tidak dapat menyebut kondisi keuangan sebagai ketat, serta menekankan bahwa tidak ada target inflasi yang lunak. Inflasi tahunan utama AS tercatat naik menjadi 3,7% pada September, sementara target stabilitas harga The Fed adalah 2% yang diukur dengan PCE. PDB kuartal ketiga kemungkinan berada di atas 3%, dan investasi bisnis diproyeksikan meningkat dengan laju dua digit.

    Keputusan ini berdampak langsung pada pasar keuangan global.

    Indeks S&P 500 naik 0,28 persen ke 7.743,98, Nasdaq Composite menguat 0,27 persen ke 26.549,85, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 97,53 poin menjadi 52.475,10.

    Jeff Schulze, Kepala Strategi Investasi Franklin Templeton Institute, menyatakan bahwa tidak ada hal dari keputusan hari ini yang mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin sebelum akhir tahun. Jed Ellerbroek, manajer portofolio Argent Capital Management, mencatat bahwa pasar secara berkala mengalami periode ketika investor khawatir terhadap belanja AI, namun setelah itu, saham teknologi biasanya kembali memimpin penguatan pasar.

    // Analisis redaksi

    pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

    Pernyataan Warsh bahwa "suku bunga memengaruhi hampir segalanya" mengindikasikan bahwa bank sentral AS tetap waspada terhadap inflasi yang masih berada di 3,7% pada September. Hal ini menciptakan ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan, terutama dengan probabilitas hampir 93 persen bahwa suku bunga akan dipertahankan pada level saat ini berdasarkan perdagangan kontrak berjangka. Namun, peringatan Jeff Schulze bahwa kenaikan 25 basis poin masih mungkin terjadi sebelum akhir tahun menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai oleh investor asing yang mengalokasikan dana ke pasar berkembang seperti Indonesia.

    Dampak langsung dari kebijakan ini terlihat pada penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai 102,122, yang secara historis berkorelasi negatif dengan nilai tukar Rupiah dan kinerja pasar saham negara berkembang. Melemahnya Rupiah ke Rp18.145/US$ mendekati rekor terlemah menunjukkan bahwa pasar masih merespons sentimen hawkish dari The Fed, meskipun keputusan awal adalah menahan suku bunga. Di sisi lain, penguatan Wall Street selama tiga hari beruntun, didorong oleh kinerja saham teknologi seperti Broadcom dan Oracle, memberikan kontras dengan penurunan IHSG sebesar 1,99%. Hal ini mengindikasikan bahwa aliran dana asing mungkin masih berhati-hati terhadap risiko nilai tukar, meskipun sentimen global terhadap aset teknologi membaik. Potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed dapat memperlebar spread imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang stagnan di 7,454%, sehingga menarik minat investor terhadap instrumen utang domestik namun juga menambah beban biaya pinjaman bagi korporasi.