Rupiah Ditutup di Kisaran Rp18.100 per Dolar AS, Terlemah dalam Empat Bulan; Dampak ke Gawai Masih Tafsir

Redaksi Bit Nusantara ·

Sebuah pasar terbuka yang ramai di Jawa Barat, Indonesia, yang menampilkan budaya dan perdagangan lokal.
Ilustrasi · Foto: Nurul Sakinah Ridwan / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Rupiah ditutup melemah pada Senin, 26 Oktober 2026, ke kisaran Rp18.100-an per dolar AS, penutupan terlemah dalam empat bulan terakhir menurut CNBC Indonesia. Tekanan datang dari kekhawatiran konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dan arus keluar dana asing, sementara Bank Indonesia menyatakan tetap berada di pasar. Bahan yang ada belum memuat data harga gawai atau biaya aplikasi, sehingga dampak ke sektor itu dibahas sebagai tafsir di bagian analisis.

Poin kunci

  • Rupiah ditutup di Rp18.135 per dolar AS di pasar spot pada Senin sore, melemah Rp55 atau 0,30 persen.
  • Penutupan versi CNBC Indonesia berada di Rp18.110 per dolar AS, yang menjadi penutupan terlemah sejak awal Juni 2026.
  • Brent ditutup di 116,72 dolar AS per barel, sedangkan WTI di 103,27 dolar AS per barel.
  • Investor asing mencatat jual bersih Rp1,48 triliun di seluruh pasar pada Kamis, 22 Oktober 2026.
  • Belanja subsidi dan kompensasi energi hingga 30 September 2026 mencapai Rp376,8 triliun, naik 54,1 persen secara tahunan.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Di pasar spot, kurs berakhir di Rp18.135 per dolar AS, turun Rp55 atau 0,30 persen dari hari sebelumnya.

CNBC Indonesia mencatat penutupan sedikit berbeda, yakni Rp18.110 per dolar AS atau melemah 0,39 persen dari Rp18.040 pada Jumat (23/10/2026). Level itu menjadi yang terlemah sejak awal Juni 2026, atau dalam empat bulan terakhir. Kurs acuan Jisdor ikut turun Rp47 menjadi Rp18.116 per dolar AS.

Sejak pembukaan, rupiah sudah tertekan. Mata uang ini dibuka di Rp18.089 per dolar AS, turun 9 poin atau 0,05 persen dari penutupan sebelumnya di Rp18.080. Menurut data Bloomberg, pada pukul 14.12 WIB posisinya sudah di Rp18.133, melemah 53 poin atau 0,29 persen.

Pasar menyorot ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia naik, serta dana asing yang keluar dari bursa saham domestik. Minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember ditutup di 116,72 dolar AS per barel, naik 3,14 persen, sedangkan WTI berakhir di 103,27 dolar AS per barel, naik 3,82 persen.

Arus keluar dana asing masih deras. "Outflow masih cukup besar, rata-rata harian masih Rp1-2 triliunan," kata Lukman. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing mencatat jual bersih Rp1,48 triliun di seluruh pasar pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Pelemahan tidak hanya menimpa rupiah. Mayoritas mata uang Asia ikut tertekan, dengan peso Filipina turun 0,54 persen, rupee India 0,32 persen, dan yen Jepang 0,25 persen. Dolar Taiwan dan yuan China menjadi dua mata uang Asia yang menguat tipis. Indeks dolar AS sendiri nyaris datar, melemah 0,02 persen ke 101,79.

Bank Indonesia menegaskan tidak absen dari pasar. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut bank sentral melakukan intervensi lewat pasar spot, NDF, dan DNDF. Ia juga menepis anggapan bahwa kondisi ini luar biasa. "Enggak (perubahan intervensi) ini kita ... ya, volatility biasa, ya. Tapi kita kan ada terus monitor, ya. Kita lihat root-cause-nya juga," kata Destry Damayanti.

Sepanjang 2026, dolar AS sudah menguat 8,60 persen terhadap rupiah menurut data RTI Business. Pada Juli 2026, BRI Danareksa Sekuritas mencatat dolar sempat menyentuh Rp18.279.

Untuk Selasa, analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif pada rentang Rp18.130 hingga Rp18.180 per dolar AS. Sepanjang pekan ini, kisarannya diperkirakan Rp17.900 hingga Rp18.250.

Dari sisi fiskal, rata-rata harga minyak mentah Indonesia sampai akhir September 2026 berada di US$91,9 per barel, jauh melampaui asumsi anggaran sebesar US$70. Ibrahim menyebut kenaikan US$1 per barel berpotensi melebarkan defisit hingga Rp6,8 triliun. Realisasi belanja subsidi dan kompensasi energi per 30 September 2026 mencapai Rp376,8 triliun, tumbuh 54,1 persen dari tahun sebelumnya.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Bahan yang tersedia tidak memuat data harga ponsel, laptop, atau tarif layanan aplikasi, sehingga hubungan ke sektor gawai harus dibaca sebagai tafsir. Logikanya sederhana: dolar AS yang menguat 8,60 persen terhadap rupiah sepanjang 2026 berpotensi menaikkan biaya perolehan perangkat dan komponen yang dibeli dalam dolar. Importir gawai dapat menghadapi pilihan sulit, menanggung selisih kurs atau meneruskannya ke harga jual. Penutupan di sekitar Rp18.100 sekaligus menjadi pertanyaan tentang seberapa lama pelaku usaha sanggup menahan harga, terlebih proyeksi kisaran pekan ini masih lebar, antara Rp17.900 dan Rp18.250.

Biaya operasional aplikasi juga berpotensi tertekan bila sebagian pengeluarannya, seperti sewa infrastruktur atau lisensi perangkat lunak, ditagih dalam dolar. Tekanan itu dapat bertambah jika rupiah tidak segera pulih, karena arus keluar dana asing masih Rp1-2 triliun per hari dan harga minyak yang tinggi membebani fiskal lewat subsidi energi yang naik 54,1 persen. Di sisi lain, BI menyatakan tetap hadir di pasar lewat spot, NDF, dan DNDF, sehingga arah selanjutnya patut dicermati. Bagi konsumen, dampak ke harga gawai baru berpotensi terasa dengan jeda setelah pelemahan kurs, bukan serta-merta.