Kerangka Nanotyrannus Jodi Terjual Rp745 Miliar, Ilmuwan Cemas Akses Riset
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Fosil itu akhirnya terjual US$47,3 juta atau sekitar Rp745 miliar kepada pembeli anonim, jauh di atas taksiran awal US$6 juta hingga US$9 juta. Penjualan ini memicu kekhawatiran ilmuwan soal akses penelitian.
Poin kunci
- Jodi terjual US$47,3 juta atau sekitar Rp745 miliar dalam lelang berdurasi 12 menit, dimenangkan pembeli anonim.
- Taksiran pra-lelang fosil ini berkisar US$6 juta hingga US$9 juta.
- Jodi menjadi fosil dinosaurus termahal kedua dalam sejarah lelang, di bawah T. rex bernama Gus yang laku US$50,1 juta pada Juli.
- Kerangka ini terdiri dari 191 elemen tulang dan merupakan satu dari hanya tiga kerangka Nanotyrannus yang diketahui.
- Presiden Society of Vertebrate Paleontology menilai penelitian ilmiah tak dapat dipublikasikan dari spesimen yang tidak berada dalam pengelolaan publik.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Kerangka dinosaurus Nanotyrannus yang dijuluki Jodi laku seharga US$47,3 juta, setara sekitar Rp745 miliar, dalam lelang di New York. Lelang berlangsung 12 menit dan dimenangkan pembeli yang identitasnya tidak diungkap.
Harga itu melampaui taksiran pra-lelang yang berkisar US$6 juta hingga US$9 juta.
Dengan capaian tersebut, Jodi menempati urutan kedua fosil dinosaurus termahal sepanjang sejarah lelang. Posisi teratas masih dipegang T. rex bernama Gus yang terjual US$50,1 juta pada Juli lalu.
Kerangka Jodi tersusun dari 191 elemen tulang asli dengan tengkorak yang hampir utuh. Sotheby's menyebut tingkat kelengkapannya hampir 70 persen. Ukurannya mencapai tinggi sekitar 2,93 meter dan panjang sekitar 5,97 meter.
Spesimen ini satu dari hanya tiga kerangka Nanotyrannus yang diketahui ilmu pengetahuan.
Jodi ditemukan pada 2019 oleh Jodi Pierson, pemilik lahan di Formasi Hell Creek, Montana. Fosil itu kemudian tampil dalam serial dokumenter Discovery Channel pada 2020.
Nanotyrannus hidup di periode Kapur Akhir sekitar 67 juta tahun lalu, sezaman dengan T. rex. Perdebatan soal statusnya bermula dari penemuan tengkorak Cleveland Skull pada 1942. Sebuah penelitian di jurnal Nature mengonfirmasi bahwa Nanotyrannus merupakan spesies tersendiri, bukan T. rex muda.
Di kalangan ilmuwan, penjualan ini menuai keberatan. "Tidak ada penelitian ilmiah yang ditelaah sejawat yang dapat dipublikasikan berdasarkan spesimen yang tidak berada dalam pengelolaan publik," kata Presiden Society of Vertebrate Paleontology, Stuart Sumida. Organisasi itu berpendapat penjualan privat fosil tidak mendukung penelitian paleontologi.
Profesor paleontologi Universitas Edinburgh, Steve Brusatte, menyampaikan kegelisahan serupa. "Kami baru saja mengetahui bahwa Nanotyrannus itu nyata, dan sekarang salah satu kerangka terbaiknya baru saja dijual kepada penawar tertinggi," kata Steve Brusatte.
"pemburu fosil profesional memiliki peranan penting tersendiri dalam penemuan maupun pelestarian spesimen dinosaurus," kata Cassandra Hatton.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Dua fakta di bahan layak dibaca bersama. Penelitian di jurnal Nature baru mengonfirmasi bahwa Nanotyrannus adalah spesies tersendiri, sementara salah satu dari hanya tiga kerangka yang diketahui kini dilepas lewat lelang kepada pembeli anonim. Dalam kerangka itu, kekhawatiran Sumida dan Brusatte berpotensi menjadi pertanyaan nyata: bila spesimen berpindah ke tangan privat, bahan untuk telaah sejawat dapat menjadi lebih sempit.
Di sisi lain, argumen Sotheby's bahwa pemburu fosil profesional berperan dalam penemuan dan pelestarian patut dicermati. Jodi sendiri ditemukan oleh pemilik lahan di lahannya, sehingga persoalannya tidak sesederhana pro dan kontra pasar. Capaian US$47,3 juta yang jauh melampaui taksiran awal juga dapat memengaruhi cara pemilik lahan dan kolektor menilai temuan serupa, meski bahan belum memuat data tentang hal itu. Apakah pembeli kelak membuka akses bagi peneliti masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab di bahan.
- #Nanotyrannus Jodi
- #New York
- #fosil
- #akses riset