Pentagon Selidiki Pendingin Rusak di Pangkalan AS, Diduga Ulah Peretas

Redaksi Bit Nusantara ·

Ruang server data modern dengan rak jaringan dan kabel.
Ilustrasi · Foto: Brett Sayles / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Pentagon menyelidiki kerusakan mesin pendingin di sedikitnya enam toko bahan pangan pangkalan militer Amerika Serikat pada akhir Agustus 2026 yang diduga akibat serangan siber. Menurut empat pejabat, penyelidik AS kini berkomunikasi dengan rekan mereka di Prancis, yang menghadapi serangan serupa pada awal Oktober. Kasus ini menyangkut pangkalan Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut di sejumlah negara bagian.

Poin kunci

  • Pentagon menangani rangkaian kerusakan pendingin di pangkalan militer AS sebagai dugaan peretasan, menurut empat pejabat.
  • Setidaknya enam toko bahan makanan di dalam pangkalan terdampak, tersebar di Arizona, California, Wyoming, Mississippi, hingga Rhode Island.
  • Di setidaknya satu pangkalan, suhu freezer dinaikkan semalaman hingga makanan layu dan meleleh pada pagi hari.
  • Serangan serupa di Prancis menyasar lebih dari 350 lokasi supermarket, dengan kerugian diperkirakan puluhan juta euro.
  • Unit Cyber Command dan Kantor Lapangan Siber milik Departemen Investigasi Kriminal Angkatan Darat ikut menyelidiki kasus ini.

Rangkaian kerusakan tersebut ditangani sebagai dugaan serangan siber, menurut empat pejabat terkait.

Kerusakan menimpa setidaknya enam commissary, yakni toko di dalam pangkalan tempat personel militer berbelanja bahan makanan. Pangkalan yang terdampak berada di bawah Angkatan Darat, Angkatan Udara, dan Angkatan Laut AS, dan lokasinya mencakup Arizona, California, Wyoming, Mississippi, serta Rhode Island.

Selama gangguan berlangsung, toko-toko itu tidak dapat menjual daging, susu, sayur, dan makanan beku. Mereka tetap membuka layanan untuk barang kering. Stok makanan di dalam lemari pendingin pun tidak lagi layak dikonsumsi.

Di setidaknya satu pangkalan, freezer tidak sekadar mati. Suhunya dinaikkan semalaman, sehingga pada pagi harinya makanan layu dan meleleh. Suhu unit pendingin di sejumlah toko disebut dinaikkan secara sepihak pada malam hari.

Pengelola Fort Huachuca di Arizona menceritakan kejadian itu lewat akun Facebook resmi pangkalan pada 26 Agustus. "Freezer masuk ke mode defrost (pencairan es) dan memanaskan semua makanan. Jadinya, makanannya sudah rusak dan tidak layak dimakan," kata pengelola Fort Huachuca. Insiden ini baru diberitakan luas setelah blog Signal and Silence melaporkannya pada 28 Agustus, disusul Stars and Stripes dan Daily Telegraph.

Perwakilan Pentagon menyatakan pihaknya "bekerja sama erat dengan mitra antarlembaga dan penegak hukum". Satu unit Cyber Command ikut menyelidiki, sementara Departemen Investigasi Kriminal Angkatan Darat melibatkan Kantor Lapangan Siber miliknya.

Para penyelidik militer AS juga dikabarkan terus berkomunikasi dengan penyelidik di Prancis. Negara itu mengalami serangan siber terhadap freezer supermarket pada awal Oktober. Di sana, peretas menguasai kendali suhu di lebih dari 350 lokasi supermarket. Beberapa unit pendingin terbakar, dan kerugian ditaksir mencapai puluhan juta euro.

Kedutaan Besar Prancis di Washington memilih tidak berkomentar soal insiden ini. Produsen asal Denmark, Danfoss, menyebut banyak perangkat pendingin yang menjadi sasaran di Prancis sudah tua dan menjalankan peranti lunak lawas. Belum diketahui apakah pangkalan militer AS memakai merek yang sama.

Danfoss mencatat serangan siber terhadap sistem pendingin supermarket di Rusia dan Israel pada 2022. Pada awal tahun ini, Inisiatif Keamanan Pangan Global (GFSI) menyerukan perlindungan siber yang kuat untuk teknologi pendingin industri.

"Ini pasti dapat mengganggu rantai pasokan makanan," kata Bill Moore, CEO Xona Systems.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Kemiripan pola antara kejadian di pangkalan AS dan di Prancis, yakni suhu pendingin yang dimanipulasi, dapat menjelaskan mengapa penyelidik kedua negara saling berkomunikasi. Bila penyelidikan kelak menemukan kaitan teknis di antara keduanya, kasus ini berpotensi dibaca sebagai gejala kerentanan sistem pendingin yang lebih luas, bukan insiden tunggal. Hal itu masih menjadi pertanyaan, sebab merek perangkat di pangkalan AS belum diketahui.

Peringatan GFSI awal tahun ini serta catatan Danfoss soal serangan serupa di Rusia dan Israel pada 2022 menunjukkan bahwa risiko pada pendingin industri sudah dikenal sebelum kasus Agustus. Karena itu, keterlibatan Cyber Command dan unit siber Angkatan Darat patut dicermati sebagai tanda keseriusan Pentagon menangani kerusakan yang tampak sepele, tetapi dapat mengganggu pasokan pangan personel militer.