Bukan Pembakaran Biasa: Ini Cara Matahari Menyala 4,6 Miliar Tahun
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rasdewita Kesumaningrum menjelaskan bahwa Matahari bersinar selama sekitar 4,6 miliar tahun lewat fusi nuklir di intinya. Penjelasan itu muncul dalam pemberitaan pada 22 Oktober 2026 dan dilengkapi data tentang suhu, komposisi, serta laju perubahan massa Matahari.
Poin kunci
- Suhu inti Matahari mencapai 15 juta derajat Celsius, sedangkan fotosfernya sekitar 5.500 derajat Celsius.
- Matahari mengubah sekitar 600 juta ton hidrogen menjadi helium setiap detik.
- Sekitar 4 juta ton massa Matahari berubah menjadi energi setiap detik.
- Komposisi massa Matahari terdiri atas 73–74% hidrogen dan 24–25% helium.
- NASA memperkirakan hidrogen Matahari cukup untuk fusi nuklir sekitar lima miliar tahun lagi.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Matahari telah menghasilkan energi selama sekitar 4,6 miliar tahun lewat proses fusi nuklir, bukan lewat pembakaran seperti api di bumi. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rasdewita Kesumaningrum, menguraikan mekanisme yang membuat bintang itu terus menyala.
Matahari berupa bola plasma yang sebagian besar tersusun atas hidrogen dan helium. Dari seluruh massanya, 73–74% adalah hidrogen dan 24–25% helium, sedangkan sisanya unsur berat seperti oksigen, karbon, besi, nitrogen, dan silikon.
Suhu di inti Matahari mencapai sekitar 15 juta derajat Celsius. Di sana, sekitar 600 juta ton hidrogen diubah menjadi helium setiap detik.
Dalam proses itu, sekitar 4 juta ton massa berubah menjadi energi yang dilepaskan ke lingkungan sekitarnya tiap detik. Angka tersebut juga menjadi judul laporan lain tentang fusi nuklir yang menopang cahaya Matahari.
Energi dari inti tidak langsung keluar. Ia melewati zona radiatif dan zona konvektif, lalu dilepaskan lewat fotosfer yang bersuhu sekitar 5.500 derajat Celsius.
Kesumaningrum menyebut kestabilan Matahari berasal dari imbangan dua gaya yang saling berlawanan.
Massa Matahari sekitar 333.000 kali massa Bumi. Cahayanya menempuh jarak sekitar 150 juta kilometer dan tiba di Bumi setelah sekitar delapan menit 20 detik.
BRIN juga memuat penjelasan serupa mengenai bagaimana Matahari terus menyala selama 4,6 miliar tahun.
Bagi Bumi, energi Matahari berperan lebih luas daripada sekadar cahaya. "Matahari berguna sebagai energi terbarukan, dan juga memengaruhi iklim karena energi Matahari mengatur suhu Bumi, sirkulasi atmosfer dan samudra, serta pola cuaca jangka panjang," kata Rasdewita Kesumaningrum.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Angka-angka dalam bahan memperlihatkan mengapa Matahari tidak kehabisan bahan bakar dalam waktu singkat. Konversi sekitar 600 juta ton hidrogen per detik terdengar sangat besar, tetapi massa Matahari yang sekitar 333.000 kali massa Bumi menjadi cadangan raksasa. Perkiraan NASA tentang hidrogen yang cukup untuk sekitar lima miliar tahun lagi tampaknya sejalan dengan gambaran itu, dan berpotensi menjawab rasa penasaran publik tentang berapa lama lagi Matahari akan bersinar.
Penjelasan Kesumaningrum tentang keseimbangan dinamis antara tekanan fusi dan tarikan gravitasi patut dicermati karena menjawab mengapa Matahari tampak stabil, tidak meledak dan tidak menyusut. Kestabilan itu dapat dibaca sebagai salah satu alasan energi yang sampai ke Bumi cukup teratur, sehingga ia disebut mengatur suhu Bumi, sirkulasi atmosfer dan samudra, serta pola cuaca jangka panjang. Bahan yang ada belum menguraikan hubungan lebih rinci antara keseimbangan itu dan iklim Bumi, sehingga kaitan tersebut sebaiknya dipandang sebagai konteks, bukan kesimpulan.
- #Matahari
- #BRIN
- #Fusi Nuklir
- #Rasdewita Kesumaningrum