Satelit Suncatcher Google Aktif di Orbit dan Tulis Haiku; Polisi Finlandia Selidiki Penebangan Hutan di Lokasi Pusat Data Google di Muhos
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Prototipe satelit Project Suncatcher milik Google, yang membawa empat chip TPU, beroperasi di orbit dan mengirim respons AI pertamanya ke Bumi. Di Finlandia, polisi pada 29 Oktober 2026 membuka penyelidikan pidana atas penebangan hutan di lokasi rencana pusat data Google di Muhos.
Poin kunci
- Satelit Suncatcher membawa empat TPU dan membangkitkan listrik hingga 1 kW, tetapi hanya satu TPU yang dapat menyala dalam satu waktu.
- Model Gemma 4 menulis haiku tentang berada di luar angkasa, lalu mengirimkannya ke Bumi saat satelit melintasi Svalbard, Norwegia.
- Dua satelit tambahan berchip lebih canggih akan diluncurkan pada 2027 bila TPU terbukti mampu.
- Polisi Oulu mengumumkan penyelidikan pidana atas dugaan pelanggaran lingkungan di lokasi rencana pusat data Google di Muhos.
- Google mengakui telah menebang sekitar 330 hektare hutan di Muhos dan hampir 200 hektare di Kajaani.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Satelit prototipe Project Suncatcher milik Google kini beroperasi di orbit dan sudah berkomunikasi dengan Bumi. Wahana itu menjadi langkah awal gagasan menempatkan pusat data kecerdasan buatan di luar angkasa.
Tim Google mengirim perintah kepada model terbuka Gemma 4 yang terpasang di satelit, agar menulis haiku tentang berada di luar angkasa. Jawabannya dikirim balik ke Bumi ketika satelit melintasi Svalbard, Norwegia.
Haiku itu berbunyi: "Blue marble below / Data streams in silent grace / Starlight feeds my core." Terjemahannya: "Bumi biru di bawah / Data mengalir dalam keheningan anggun / Cahaya bintang memberi daya pada intiku".
Google menyebut keluaran itu sebagai respons AI pertama yang dihasilkan TPU kelas pusat data di orbit. Pengumuman tonggak tersebut disampaikan pada 30 Oktober 2026 oleh Travis Beals, Senior Director of Paradigms of Intelligence di Google, yang menyebutnya tonggak "Hello World" misi.
Satelit itu diluncurkan pada 1 Oktober 2026 menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX, bersama lebih dari 100 wahana antariksa lain. Google membangunnya bersama Planet dan menumpang pada misi Transporter-18.
Setelah peluncuran, tim memastikan kontak dengan satelit, lalu menjalani masa komisioning sekitar tiga minggu untuk menguji subsistem. Insinyur menyalakan sistem onboard dan menjalankan uji pembelajaran mesin awal. Seusai haiku, tim mencoba pula limerick bertema luar angkasa, lalu meminta satelit melaporkan status teknis sistem di dalamnya.
Secara teknis, satelit membawa empat Tensor Processing Unit (TPU), chip rancangan Google untuk pembelajaran mesin yang sudah dipakai di pusat data di Bumi. Pembangkitan listriknya mencapai sekitar 1 kilowatt, sehingga hanya satu TPU yang bisa menyala pada satu waktu. Satu TPU itu dapat bekerja sekitar 20 menit sekali jalan menurut TechCrunch, sedangkan Economic Times memperkirakan sekitar 15 menit untuk permintaan sederhana, akibat batas manajemen panas.
Juru bicara Google menyatakan satelit beroperasi secara normal. Tahap berikutnya adalah serangkaian pengujian untuk melihat kinerja TPU di bawah tekanan termal dan paparan radiasi. "Selanjutnya, kami akan melanjutkan serangkaian pengujian untuk mengevaluasi kinerja TPU di bawah tekanan termal dan paparan radiasi di orbit," kata Google.
Pengujian di orbit dianggap penting karena uji di Bumi hanya memakai akselerator partikel. Radiasi dapat memicu bit flips yang merusak data tanpa terdeteksi alat pemantau biasa. Uji di darat menunjukkan dampaknya kecil untuk beban kerja inferensi, tetapi lebih bermasalah untuk pelatihan model.
Bila TPU terbukti mampu, Google akan meluncurkan dua satelit tambahan berchip lebih canggih pada 2027. Satelit itu dimaksudkan mendukung pembangkitan daya lebih tinggi dan menguji tautan optik antarsatelit. Misi ini juga bertujuan mengumpulkan data tentang ketahanan TPU terhadap tekanan fisik penerbangan antariksa, radiasi, dan ekstrem suhu. Makalah peer-reviewed terkait tersedia di jurnal Joule.
Google pertama kali mengumumkan Project Suncatcher pada 4 November 2025 sebagai riset jangka panjang tentang jaringan satelit bertenaga surya dengan chip TPU. Menurut Google, satelit di orbit rendah Bumi memperoleh sinar matahari hampir terus-menerus, sehingga daya suryanya bisa mencapai delapan kali lipat dibanding di Bumi.
Sementara itu, di darat, proyek pusat data konvensional Google di Finlandia tengah berurusan dengan aparat. Departemen Kepolisian Oulu mengumumkan pada Kamis (29/10/2026) bahwa mereka membuka penyelidikan pidana atas dugaan pelanggaran lingkungan di lokasi yang direncanakan menjadi pusat data Google di Muhos, Finlandia bagian utara.
Ratusan hektare hutan di lokasi itu ditebang sebelum penilaian dampak lingkungan yang diwajibkan rampung. Penyelidikan bermula dari keluhan terhadap kegiatan Tuike Finland, anak perusahaan lokal Google. Polisi menerima lima permintaan penyelidikan, salah satunya dari Badan Pengawas Finlandia (LVV), menurut Yle.
Penyidik menemukan kemungkinan ketidakberesan pada sistem drainase dan pengelolaan air di lokasi konstruksi. Pihak berwenang memeriksa apakah pekerjaan itu melanggar undang-undang lingkungan hidup dan merusak saluran air di sekitarnya. Google mengakui telah menebang sekitar 330 hektare hutan di Muhos. Di Kajaani, lokasi pusat data lain yang direncanakan, hampir 200 hektare hutan juga sudah ditebang.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Dua kabar ini berada di ujung yang berbeda dari upaya Google memperluas daya komputasi. Satelit Suncatcher baru berupa prototipe dengan satu TPU yang menyala sekitar 15 sampai 20 menit sekali jalan. Karena itu, pusat data orbit belum dapat dibaca sebagai pengganti fasilitas di darat. Batas daya 1 kW dan manajemen panas menunjukkan jarak yang masih harus ditempuh sebelum konsep itu berskala besar.
Di sisi lain, penyelidikan pidana di Muhos berpotensi menjadi pengingat bahwa pembangunan pusat data konvensional bergantung pada kepatuhan terhadap proses perizinan dan lingkungan. Penebangan ratusan hektare sebelum penilaian dampak lingkungan selesai patut dicermati, termasuk bagaimana temuan penyidik soal drainase dan pengelolaan air akan berkembang. Janji daya surya yang melimpah di orbit dapat menarik sebagai alternatif, tetapi hasil uji radiasi dan termal yang masih berjalan akan menentukan apakah daya tarik itu terwujud. Peluncuran dua satelit tambahan pada 2027 pun bergantung pada hasil uji tersebut.
- #Project Suncatcher
- #TPU
- #Muhos
- #Finlandia