Dampak Keputusan The Fed: Rupiah Melemah dan IHSG Terpuruk di Tengah Ketegangan Inflasi

Redaksi Bit Nusantara ·

Tumpukan uang kertas 10 dan 20 euro yang melambangkan keuangan dan ekonomi.
Ilustrasi · Foto: Dom J / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga di kisaran 3,75% hingga 4% dengan suara 10-2, menunda keputusan hingga setelah pemilihan paruh waktu. Keputusan ini memicu pelemahan Rupiah ke level Rp18.145 per dolar AS dan penurunan IHSG sebesar 1,99% pada perdagangan Selasa 27 Oktober 2026. Pasar kini menanti sinyal Ketua Fed Kevin Warsh mengenai potensi kenaikan suku bunga di bulan Desember.

Poin kunci

    JAKARTA, BIT NUSANTARA —

    Federal Reserve (The Fed) resmi memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75% hingga 4% dalam rapat yang berakhir pada Rabu, 28 Oktober 2026. Keputusan ini diambil dengan suara 10-2, di mana Gubernur Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack memberikan suara tidak setuju dengan usulan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin. Ketua Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa faktor politik tidak berperan dalam keputusan tersebut, meskipun rapat ini merupakan langkah terakhir bank sentral sebelum pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan pada 3 November.

    Dampak langsung dari ketidakpastian kebijakan moneter global terlihat pada pasar keuangan Indonesia. Penurunan ini didorong oleh aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 668,26 miliar, dengan sektor infrastruktur menjadi pemberat utama yang turun 6,1%. Sektor material dasar dan teknologi juga ikut tertekan dengan penurunan masing-masing 3,7% dan 2,9%.

    Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS juga mengalami pelemahan, ditutup di posisi Rp18.145 per dolar AS, mendekati rekor terlemah Rp18.170 per dolar AS yang terjadi pada 8 Juni 2026. Melemahnya Rupiah ini sejalan dengan penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik 0,16% ke posisi 102,122. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di Indonesia stagnan di angka 7,454%, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap risiko suku bunga global.

    Di sisi lain, Ketua Fed Kevin Warsh dalam konferensi persnya memberikan sinyal bahwa bank sentral tidak selesai dengan kebijakan pengetatan moneter. Warsh menyatakan bahwa "obat moneter mulai bekerja sebagian" namun belum ada kesimpulan pasti mengenai inflasi yang masih tinggi.

    Pasar keuangan global merespons keputusan ini dengan volatilitas. Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average di AS justru naik tipis setelah pengumuman, sementara yield obligasi Treasury AS jangka panjang meningkat. Ketegangan antara inflasi yang persisten di atas target 2% dan perlambatan ekonomi menjadi dilema utama yang dihadapi The Fed.

    Perspektif dari ekonom menunjukkan bahwa pasar kini menaruh harapan besar pada pertemuan Desember. Probabilitas kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada pertemuan berikutnya di bulan Desember diproyeksikan mencapai 82,6% hingga 85%. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi pasar emerging markets, termasuk Indonesia, yang harus menghadapi arus modal yang mungkin kembali mengalir ke aset dolar AS jika suku bunga Amerika Serikat terus naik.

    Analisis:

    Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga di tengah inflasi yang masih "elevated" atau tinggi menciptakan dilema bagi kebijakan moneter di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Inflasi konsumen AS yang naik menjadi 3,7% secara tahunan pada September menunjukkan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya tertangani. Ketika bank sentral utama seperti The Fed memilih untuk "wait-and-see" atau menunggu dan melihat, hal ini berpotensi memperpanjang periode suku bunga tinggi global. Bagi Indonesia, hal ini menjadi tantangan karena Rupiah rentan terhadap tekanan pelemahan ketika diferensial suku bunga antara AS dan Indonesia tidak cukup menarik untuk menahan arus keluar modal.

    Dari sisi pasar modal, penurunan IHSG yang signifikan pada 27 Oktober 2026 mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan suku bunga yang diprediksi akan terjadi di Desember. Sektor infrastruktur dan material dasar yang turun drastis menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap biaya pinjaman yang tinggi. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga di Desember seperti yang diprediksi oleh mayoritas ekonom, maka biaya utang pemerintah dan korporasi di Indonesia bisa meningkat, menekan margin laba dan valuasi saham. Investor perlu memantau dengan ketat perkembangan data inflasi AS dan sinyal dari Ketua Warsh, karena setiap indikasi "hawkish" atau ketegasan dalam memerangi inflasi dapat memicu volatilitas lebih lanjut di pasar keuangan global dan domestik.

    // Analisis redaksi

    pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

    Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga di tengah inflasi yang masih "elevated" atau tinggi menciptakan dilema bagi kebijakan moneter di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Inflasi konsumen AS yang naik menjadi 3,7% secara tahunan pada September menunjukkan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya tertangani. Ketika bank sentral utama seperti The Fed memilih untuk "wait-and-see" atau menunggu dan melihat, hal ini berpotensi memperpanjang periode suku bunga tinggi global. Bagi Indonesia, hal ini menjadi tantangan karena Rupiah rentan terhadap tekanan pelemahan ketika diferensial suku bunga antara AS dan Indonesia tidak cukup menarik untuk menahan arus keluar modal.

    Dari sisi pasar modal, penurunan IHSG yang signifikan pada 27 Oktober 2026 mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan suku bunga yang diprediksi akan terjadi di Desember. Sektor infrastruktur dan material dasar yang turun drastis menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap biaya pinjaman yang tinggi. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga di Desember seperti yang diprediksi oleh mayoritas ekonom, maka biaya utang pemerintah dan korporasi di Indonesia bisa meningkat, menekan margin laba dan valuasi saham. Investor perlu memantau dengan ketat perkembangan data inflasi AS dan sinyal dari Ketua Warsh, karena setiap indikasi "hawkish" atau ketegasan dalam memerangi inflasi dapat memicu volatilitas lebih lanjut di pasar keuangan global dan domestik.