Brent Tembus US$113: Ongkos Kapal Tanker Naik, Biaya Impor Gawai Berpotensi Ikut Terdorong

Redaksi Bit Nusantara ·

Sekelompok profesional yang beragam mendiskusikan strategi bisnis dalam suasana kantor.
Ilustrasi · Foto: Sora Shimazaki / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Harga minyak Brent ditutup di US$113,17 per barel pada Kamis (22/10/2026) setelah serangan Houthi ke fasilitas Arab Saudi, sementara ongkos angkut tanker dan premi asuransi perang ikut melambung. Rupiah melemah ke Rp18.074 per dolar AS. Kombinasi ini patut dicermati karena dapat menambah beban logistik barang impor, termasuk gawai.

Poin kunci

  • Brent naik US$4,35 atau 4 persen menjadi US$113,17 per barel pada penutupan Kamis (22/10), level tertinggi dalam lima bulan.
  • Tarif angkutan supertanker mendekati rekor sekitar US$37,37 per barel.
  • Premi asuransi risiko perang untuk kapal melonjak hingga sekitar 10 persen dari nilai kapal.
  • Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran seiring meningkatnya pertempuran dengan Houthi.
  • Rupiah melemah 14 poin ke Rp18.074 per dolar AS.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Harga minyak mentah Brent ditutup naik US$4,35 atau 4 persen ke US$113,17 per barel pada perdagangan Kamis (22/10/2026), tertinggi dalam lima bulan. Minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$2,32 atau 2,4 persen ke US$99,47 per barel.

Saudi Aramco menyuruh karyawannya meninggalkan kantor pusat di Dhahran dan bekerja dari jarak jauh.

Serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam pada Rabu (21/10) merenggut dua nyawa dan melukai delapan orang. Indeks acuan bursa Arab Saudi, TASI, merosot 2,5 persen pada Kamis.

Pada Jumat (23/10) pagi, Brent bergerak tipis dan turun 21 sen ke US$112,96 per barel. Sepanjang tahun ini, kenaikannya telah melampaui 85 persen akibat perang antara AS dan Iran.

Di sektor pelayaran, tekanan tidak hanya datang dari harga minyak. Tarif angkutan kapal supertanker mendekati rekor di kisaran US$37,37 per barel, sedangkan premi asuransi risiko perang menyentuh sekitar 10 persen dari nilai kapal. Sekitar 30 serangan terhadap kapal dilaporkan terjadi sepanjang Oktober.

Aliran minyak dari Timur Tengah sendiri tetap deras, rata-rata di atas 24 juta barel per hari hingga 18 Oktober, lebih tinggi daripada rata-rata 23,3 juta barel per hari sebelum perang. Sekitar 40 persen minyak mentah non-Iran pada September dikirim lewat jalur di luar Selat Hormuz.

"Dulu pada April, masalahnya adalah kekurangan minyak mentah. Pada Oktober, masalahnya adalah biaya untuk memindahkannya," kata Natasha Kaneva, kepala tim strategi komoditas global JPMorgan.

Di dalam negeri, kurs rupiah tercatat Rp18.074 per dolar AS, melemah 14 poin atau 0,08 persen dari penutupan sebelumnya. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut lonjakan harga minyak terjadi setelah Houthi mengumumkan rencana menyerang infrastruktur minyak Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam. Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah berkurang Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun per Rabu (21/10).

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Bahan yang ada tidak menyebut harga gawai atau tarif kontainer secara langsung, sehingga hubungan ke produk elektronik hanya dapat dibaca sebagai tafsir. Pernyataan Kaneva bahwa persoalan Oktober adalah biaya memindahkan minyak, bukan kelangkaannya, menunjukkan bahwa tekanan harga bergeser dari sisi pasokan ke sisi logistik.

Bagi importir gawai, beban tersebut dapat berlipat karena transaksi umumnya berbasis dolar AS, sementara rupiah berada di Rp18.074 per dolar. Pelemahan kurs membuat setiap kenaikan ongkos kirim dan asuransi terasa lebih berat dalam rupiah. Apakah tambahan biaya itu diteruskan ke harga di tingkat konsumen menjadi pertanyaan yang patut dicermati, sebab bergantung pada margin importir dan kontrak pengiriman yang tidak dijelaskan dalam bahan. Pengurangan kepemilikan asing di obligasi pemerintah turut menjadi catatan, karena dapat menambah tekanan pada kurs bila berlanjut.

  • #Harga Minyak Brent
  • #Houthi
  • #Arab Saudi
  • #Impor Gawai
  • #Ongkos Kapal Tanker