Mentan Optimistis Hadapi La Nina, BI Waspadai El Nino: Inflasi Pangan 5,03%

Redaksi Bit Nusantara ·

Pasar yang hidup di Jawa Barat dengan penduduk setempat yang menjual camilan dan barang-barang tradisional Indonesia.
Ilustrasi · Foto: Nurul Sakinah Ridwan / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia siap menghadapi La Nina yang diperkirakan datang tahun depan, sementara Bank Indonesia mewaspadai El Nino yang berpotensi mendorong harga beras, cabai, dan bawang merah. Inflasi tahunan September 2026 tercatat 3,28 persen dengan komponen harga bergejolak 5,03 persen. Pemerintah melaporkan stok beras 4,56 juta ton pada Sidang Kabinet Paripurna, Jumat, 23 Oktober.

Poin kunci

  • Mentan Amran menyatakan Indonesia siap menghadapi La Nina yang diperkirakan terjadi tahun depan.
  • Inflasi volatile food nasional 5,03 persen, dengan Sulampua mencatat 8,63 persen.
  • Stok beras nasional Oktober 2026 dilaporkan 4,56 juta ton, diklaim tertinggi sepanjang sejarah.
  • Harga ayam di peternak sekitar Rp21.000 per kilogram, di konsumen sekitar Rp46.000.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia siap menghadapi curah hujan tinggi akibat La Nina yang diperkirakan terjadi tahun depan. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) mewaspadai dampak El Nino terhadap kenaikan harga pangan di sejumlah daerah.

Pemerintah mengaku sudah punya pengalaman menghadapi perubahan iklim demi menjaga ketahanan pangan nasional. "Sudah kita terlatih dengan kondisi itu," kata Amran. Ia menegaskan arah kebijakan yang ditempuh adalah swasembada pangan berkelanjutan.

BI melihat risiko dari arah berbeda. Cuaca kering yang berkepanjangan hingga awal 2027 dinilai dapat menekan produksi dan pasokan komoditas pangan. Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menyebut komoditas yang paling rentan adalah beras, cabai, dan bawang merah.

"Komoditas yang paling rentan adalah beras, kemudian cabai dan bawang merah," kata Ricky. Wilayah yang perlu perhatian khusus pada sisi pasokan mencakup Sulawesi, Maluku, Papua, Bali-Nusa Tenggara, dan Sumatra.

Data inflasi menunjukkan tekanan sudah mulai terasa. Angka tahunan September 2026 berada di 3,28 persen, bergerak naik dari posisi 3,19 persen sebulan sebelumnya. Komponen harga bergejolak mencatat 5,03 persen dan menyumbang 0,83 poin persentase terhadap inflasi bulan itu.

Secara spasial, tekanan terbesar ada di wilayah timur dan Kalimantan. Volatile food di Sulampua mencapai 8,63 persen, ditopang kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, tomat, bawang merah, beras, ikan cakalang, dan tongkol. Kalimantan mencatat 7,2 persen.

Amran menilai angka inflasi masih dalam batas aman. "Alhamdulillah, saat ini petani sejahtera, inflasi terkendali. Inflasi sekarang 3,28 persen, target maksimal 3,5 persen," ujarnya. Secara nasional, BI juga menyebut inflasi September meningkat tetapi masih terkendali dalam sasaran.

Dari sisi persediaan, Amran melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa stok beras Oktober 2026 mencapai 4,56 juta ton. Laporan itu disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih, Jumat, 23 Oktober. Angka tersebut diklaim sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.

Pemerintah menghitung ketersediaan beras cukup hingga Juli 2027. Perhitungannya memasukkan stok di gudang, estimasi produksi standing crop sekitar 10 juta ton, dan komponen horeka sekitar 10 juta ton, sehingga totalnya sekitar 25 juta ton terhadap kebutuhan 2,5 juta ton per bulan.

Tujuannya mempercepat penyaluran dari daerah surplus ke daerah yang kekurangan pasokan.

"Kami BI dan Pemda serta TPID terus jaga stabilitas harga," kata Ricky. Untuk jangka panjang, BI mendorong praktik budi daya yang baik, infrastruktur irigasi, serta pemanfaatan teknologi dan bibit tahan cuaca.

Dari sisi petani, Amran menyoroti turunnya harga pupuk 20 persen yang dinikmati sekitar 115 juta petani. Ia juga menyebut Nilai Tukar Petani naik menjadi 131 dari 48 sebelumnya.

Pembenahan tata niaga menjadi perhatian lain. Pemerintah ingin petani memperoleh harga layak dan konsumen membayar harga wajar. Harga ayam di peternak berkisar Rp21.000 per kilogram, sedangkan di tingkat konsumen sekitar Rp46.000.

Pemerintah mendorong pembangunan cold storage dan penguatan koperasi untuk mengelola cabai, tomat, telur, dan ayam. Amran menyebut produksi ayam, telur, dan beras surplus, bahkan sudah diekspor. Sulawesi Selatan disebut berperan sebagai hub pangan bagi Indonesia bagian timur.

"Ya, harus kita bekerja bersama-sama, kolaborasi," ujar Amran.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Dua pesan yang berjalan beriringan patut dicermati. Stok beras 4,56 juta ton dan klaim kecukupan hingga Juli 2027 dapat menjadi penyangga harga beras, komoditas yang oleh BI dinilai paling rentan terhadap El Nino. Namun, stok nasional belum otomatis menjawab persoalan distribusi: inflasi volatile food di Sulampua yang mencapai 8,63 persen jauh di atas angka nasional 5,03 persen, sehingga kelancaran pengiriman dari daerah surplus ke daerah defisit menjadi pertanyaan penting.

Selisih harga ayam antara peternak dan konsumen berpotensi menunjukkan bahwa sebagian beban harga dapat tertahan di rantai tata niaga, bukan di tingkat produksi. Bila rencana cold storage dan penguatan koperasi berjalan, margin petani dan harga konsumen dapat sama-sama terbantu. Meski begitu, inflasi tahunan 3,28 persen sudah mendekati batas maksimal 3,5 persen yang disebut pemerintah, sehingga ruang aman menjadi tipis jika cuaca kering mengganggu pasokan cabai dan bawang merah. Bagi petani, pupuk yang lebih murah dan dorongan bibit tahan cuaca serta irigasi dapat membantu menjaga produksi di tengah pergeseran cuaca, meski dampaknya terhadap harga masih perlu dipantau.

  • #Mentan
  • #La Nina
  • #El Nino
  • #BI
  • #Inflasi Pangan