Nasdaq Anjlok 2,6% Dipicu Cemas Biaya AI dan Lonjakan Minyak

Redaksi Bit Nusantara ·

Profesional bisnis yang terlibat dalam rapat kolaboratif di sekitar meja konferensi.
Ilustrasi · Foto: Vlada Karpovich / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Nasdaq Composite merosot 2,6% ke level 26.008,86 dalam perdagangan Rabu waktu New York, dipicu kekhawatiran belanja kecerdasan buatan dan melonjaknya harga minyak. Indeks S&P 500 ikut turun 1,21%, sedangkan Dow Jones nyaris datar.

Poin kunci

  • Dow Jones Industrial Average justru naik tipis 11,89 poin atau 0,02% ke 52.867,98.
  • Minyak mentah Brent naik 4% ke 113,17 dolar AS per barel, tertinggi sejak Mei; WTI naik 2,4% ke 99,47 dolar AS.
  • Saham CoreWeave turun 10%, sedangkan GE Vernova dan Bloom Energy masing-masing anjlok lebih dari 11%.
  • Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 17 basis poin ke 4,972%.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Nasdaq Composite ditutup melemah 2,6% ke level 26.008,86 pada perdagangan Rabu waktu setempat. Pelemahan itu terjadi ketika kekhawatiran soal besarnya biaya kecerdasan buatan (AI) kembali mengemuka dan harga minyak melonjak.

Indeks S&P 500 ikut tertekan 1,21% dan berakhir di 7.663,43. Dow Jones Industrial Average relatif bertahan: indeks itu naik 11,89 poin atau 0,02% ke 52.867,98.

Tekanan jual terkonsentrasi pada saham yang bersinggungan dengan ekosistem AI. Penyedia infrastruktur komputasi CoreWeave merosot 10% saat imbal hasil obligasi tinggi dan swap gagal bayar kredit (CDS) menjadi perhatian pelaku pasar. Dua perusahaan energi dan peralatan, GE Vernova dan Bloom Energy, masing-masing jatuh lebih dari 11%.

Saham sektor kelistrikan dan jasa penunjang juga ikut terseret. Vistra anjlok lebih dari 10%, sementara Quanta Services turun lebih dari 8%. Indeks bursa Amerika secara umum bergerak bercampur di tengah merosotnya saham teknologi berkapitalisasi raksasa dan harga minyak mentah.

Minyak West Texas Intermediate (WTI) acuan Amerika menguat 2,4% ke 99,47 dolar AS per barel.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 17 basis poin ke 4,972%, sedangkan tenor 2 tahun turun lebih dari 16 basis poin ke 4,659%.

Di luar sektor teknologi, Presiden dan CEO Rollins, Jerry Gahlhoff Jr., menyatakan kekecewaan atas hasil kuartal ketiga perusahaannya. "Kami kecewa dengan kinerja kuartal ketiga kami dan bertindak dengan segera untuk mengatasi tantangan yang memengaruhi hasil kami," kata Jerry Gahlhoff Jr..

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Pola pelemahan hari itu menunjukkan tekanan yang tidak merata. Nasdaq turun paling dalam, S&P 500 lebih ringan, dan Dow nyaris tak bergerak. Jatuhnya CoreWeave bersamaan dengan GE Vernova, Bloom Energy, Vistra, dan Quanta Services dapat dibaca sebagai sinyal bahwa investor mempertanyakan nilai rantai pasok AI, mulai dari komputasi hingga kelistrikan.

Lonjakan Brent ke level tertinggi sejak Mei menambah lapisan kekhawatiran lain, karena harga energi yang tinggi dapat menekan ekspektasi biaya dan margin perusahaan. Menjadi pertanyaan, mengapa imbal hasil Treasury turun lebih dari 16 hingga 17 basis poin pada hari yang sama, padahal tekanan harga minyak umumnya identik dengan inflasi. Bahan yang tersedia belum menjelaskan hubungan kedua gerakan itu, sehingga arah selanjutnya patut dicermati. Bagi investor Indonesia, volatilitas di saham teknologi dan harga minyak global berpotensi menjadi bahan pertimbangan, meski bahan belum memuat dampak langsung ke pasar domestik.