Penipuan Cek di AS Lebih Merugikan daripada Kartu Debit, Padahal Cek Tinggal 3% Pembayaran

Redaksi Bit Nusantara ·

Tampilan atas buku koktail, grafik keuangan, dan pensil merah di meja.
Ilustrasi · Foto: RDNE Stock project / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Data federal menunjukkan warga AS kehilangan lebih banyak uang akibat penipuan cek pada 2025 dibandingkan penipuan kartu debit atau kartu hadiah, padahal cek kertas hanya 3% dari semua pembayaran pada 2024. Peralihan ke jalur digital pun tidak bebas risiko: pemalsuan digital menyumbang 35% upaya penipuan dokumen.

Poin kunci

  • Data federal menunjukkan kerugian akibat penipuan cek pada 2025 lebih besar daripada penipuan kartu debit atau kartu hadiah.
  • Federal Reserve mencatat cek kertas hanya 3% dari semua pembayaran di AS pada 2024.
  • Chuck Bell kehilangan $25,000 pada 2021 setelah pencuri mengubah cek tagihan pemanasnya lalu mencairkannya.
  • Aplikasi pembukaan akun digital ditinggalkan 3,36 kali untuk tiap satu yang rampung pada 2025, menurut studi Cornerstone Advisors yang disponsori Alkami.
  • Entrust menemukan pemalsuan digital menyumbang 35% upaya penipuan dokumen.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Penipuan cek di Amerika Serikat tetap menonjol ketika penggunaan cek kertas terus menyusut. Data federal menunjukkan warga AS kehilangan lebih banyak uang akibat penipuan cek pada 2025 dibandingkan akibat penipuan kartu debit atau kartu hadiah. Federal Reserve melaporkan cek kertas hanya menyumbang 3% dari semua pembayaran di AS pada 2024.

Salah satu korbannya adalah Chuck Bell. Pada 2021, pencuri mengubah cek pembayaran tagihan pemanasnya, lalu mencairkannya senilai $25,000.

Kerentanan cek terletak pada data yang tercetak di atasnya. "Nomor rekening dan routing Anda muncul di cek," kata Adam Rust, direktur layanan keuangan di Consumer Federation of America. Rust juga menyebut istilah "cuci" (wash) dalam penjelasannya.

Media keuangan AS mulai menyerukan perubahan kebiasaan. USA Today mengimbau pembaca yang masih mengirim cek lewat pos agar berhenti. Di sisi industri, publikasi perbankan membahas cara lembaga keuangan mendeteksi penipuan cek lebih dini karena kejahatan ini bergerak cepat.

Beralih ke jalur digital pun bukan tanpa risiko. Entrust menganalisis lebih dari 1 miliar verifikasi sepanjang September 2024 hingga September 2025 dan mendapati pemalsuan digital menyumbang 35% upaya penipuan dokumen. Deepfake menyumbang seperlima upaya penipuan biometrik, sementara serangan injeksi naik 40% secara tahunan.

Pengetatan verifikasi punya harga tersendiri. Studi benchmark Cornerstone Advisors yang disponsori Alkami mencatat aplikasi digital ditinggalkan 3,36 kali untuk setiap satu yang diselesaikan pada 2025. Hal Lonas menyarankan pemeriksaan dokumen dilakukan belakangan bila transaksi melampaui $10.000 atau profil nasabah berubah.

Soal biaya bagi pelaku, Scott menyatakan, "In this world of AI, we’ve essentially made the cost of perpetrating fraud $0". Ia menambahkan, "The real customer is the one that gets stuck re-uploading the blurry photo of his or her license".

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Bahan ini memperlihatkan ketimpangan antara pangsa pemakaian dan besarnya kerugian. Cek hanya 3% dari pembayaran, tetapi kerugiannya melampaui penipuan kartu debit dan kartu hadiah. Hal ini berpotensi menjadi pertanyaan bagi bank dan regulator: apakah biaya mempertahankan infrastruktur cek sepadan dengan risiko yang ditanggung konsumen dan lembaga keuangan.

Sisi lain patut dicermati. Penipuan digital tumbuh, dengan pemalsuan dokumen digital 35% dari upaya penipuan dan serangan injeksi naik 40%. Bila biaya melakukan penipuan mendekati nol seperti disebut Scott, lembaga keuangan dapat terdorong memperketat verifikasi, yang berpotensi menambah biaya kepatuhan dan menyusutkan jumlah nasabah yang menyelesaikan pendaftaran, mengingat tingginya angka aplikasi yang ditinggalkan. Bagi pembaca Indonesia, dinamika ini dapat menjadi cermin: peralihan ke pembayaran digital tidak otomatis menghapus risiko, melainkan memindahkannya. Bahan yang ada tidak memuat data tentang Indonesia, sehingga kaitan tersebut sebatas tafsir.

  • #penipuan cek
  • #kartu debit
  • #AS
  • #pemalsuan digital