HP Gratis Hoaks, Rekening Rp50 Ribu untuk 25 Juta Warga Nyata: Apa Bedanya?

Redaksi Bit Nusantara ·

Pasar Pontianak yang ramai dengan penjual lokal dan berbagai barang.
Ilustrasi · Foto: Rizky Rianto / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Pemerintah mengumumkan kriteria sasaran awal program Satu Orang Satu Rekening berisi setoran Rp50 ribu bagi sekitar 25 juta warga kelompok ekonomi terbawah, dengan anggaran Rp1,28 triliun. Wacana HP gratis sendiri masih sebatas rencana yang dikritik ekonom UGM.

Poin kunci

  • Program Satu Orang Satu Rekening tahap awal menyasar sekitar 25 juta warga desil 1-4 berusia di atas 17 tahun dengan setoran awal Rp50 ribu.
  • Anggaran tahap ini Rp1,28 triliun, lebih rendah dari perkiraan awal Rp3,8 triliun, dan direncanakan terealisasi pada kuartal IV-2026.
  • Tautan pendaftaran bantuan HP dan rekening baru di Facebook adalah hoaks dan terindikasi phising pencuri data pribadi.
  • Usulan pembagian ponsel gratis pertama kali dilontarkan Hashim Djojohadikusumo, dan kebijakannya masih berupa rencana.
  • Ekonom UGM menilai HP gratis kurang mendesak; pengadaan 20 juta unit seharga Rp1 juta memerlukan Rp20 triliun.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Pemerintah merinci tiga kriteria sasaran awal program Satu Orang Satu Rekening yang membekali setiap penerima dengan saldo Rp50 ribu.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut cakupan penerima itu. "Ini untuk sekitar 25 juta warga desil 1-4 di usia di atas 17 tahun," kata Airlangga. Ia juga menegaskan besaran setoran dan dananya. "Setoran awal disiapkan Rp50 ribu dan anggarannya Rp1,28 triliun," kata Airlangga.

Pemerintah menargetkan program ini mendongkrak inklusi keuangan nasional dari 93 persen menjadi mendekati 99 persen. Dalam rencana yang lebih luas, jangkauannya dibidik hingga sekitar 200 juta penduduk.

Dana Rp1,28 triliun itu ternyata lebih kecil dibanding perkiraan pemerintah sebelumnya, yakni Rp3,8 triliun. Realisasinya dijadwalkan pada kuartal IV-2026.

Airlangga menekankan bahwa tujuan program tidak berhenti pada pembukaan rekening. "Ini kami akan dorong untuk efektivitas penyaluran bantuan dan kegiatan produktif, jadi bukan soal hanya pembukaan rekening," ujarnya.

Di tengah pembicaraan soal rekening gratis, beredar tautan yang mengaku sebagai pendaftaran bantuan handphone dan rekening baru dari pemerintah. Pemprov Jawa Tengah menyatakan unggahan Facebook yang memuat tautan tersebut adalah hoaks.

Tautan itu membawa pengguna ke formulir digital yang meminta nama, alamat, dan nomor Telegram. Pihak provinsi menilai pola tersebut terindikasi sebagai modus penipuan dan pencurian data pribadi lewat phising. Pemerintah juga tidak memiliki program resmi pembagian HP gratis bagi masyarakat luas melalui pendaftaran lewat tautan semacam itu.

Konfirmasi tersebut penting karena wacana HP gratis memang sedang ramai dibicarakan. Rencana membagikan ponsel kepada sedikitnya 25 juta warga dewasa desil 1-4 disebut berjalan bersamaan dengan rencana membukakan rekening dan mengisi saldo Rp50 ribu per orang.

Sementara itu, integrasi rekening digital dengan data Dukcapil masih digodok untuk tahun depan. Di pasar saham, saham PTSN dan ERAA tercatat naik masing-masing 24,46 persen dan 1,75 persen, dan KONTAN mempertanyakan apakah kenaikan itu efek wacana pembagian HP gratis.

Dari kalangan akademisi, Wisnu Setiadi Nugroho, ekonom sekaligus dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB UGM, menilai rencana HP gratis kurang mendesak. Alasannya, ada rekening penerima bansos yang tidak digunakan, literasi digital masih rendah, dan titik tarik tunai belum merata.

Ia merujuk data BPS 2025 yang menunjukkan 93,5 persen rumah tangga sudah memiliki telepon seluler. Dengan angka itu, kepemilikan gawai bukanlah biang kesenjangan akses keuangan.

Wisnu juga menghitung beban anggarannya. Pengadaan HP seharga Rp1 juta untuk 20 juta warga membutuhkan Rp20 triliun, belum termasuk biaya distribusi dan pemeliharaan. "Program semacam ini juga cenderung mendorong belanja berulang, bukan sekali jalan," kata Wisnu.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Bahan menunjukkan dua hal yang kerap tercampur di ruang publik: program rekening yang kriteria dan anggarannya sudah diumumkan, dan gagasan HP gratis yang baru sebatas wacana. Kedekatan dua isu ini berpotensi dimanfaatkan pelaku penipuan, sebab tautan yang menjanjikan HP dan rekening baru terindikasi sebagai phising yang menyasar data pribadi. Warga yang masuk kelompok desil 1-4 patut berhati-hati, karena merekalah yang disebut sebagai sasaran program rekening.

Dari sisi kebijakan, selisih anggaran Rp1,28 triliun dengan perkiraan awal Rp3,8 triliun dapat menjadi pertanyaan tersendiri tentang cakupan dan desain tahap pertama. Kritik ekonom bahwa kepemilikan ponsel sudah tinggi berpotensi menggeser fokus perdebatan dari pengadaan perangkat ke penggunaan rekening, selaras dengan penegasan Airlangga bahwa tujuan program tidak sekadar membuka rekening. Kenaikan saham PTSN dan ERAA yang dikaitkan KONTAN dengan wacana HP gratis juga menunjukkan bahwa kabar yang belum pasti dapat lebih dulu direspons pasar.

  • #Satu Orang Satu Rekening
  • #Pemerintah
  • #UGM