Saham HSC Keluar dari IHSG 2 November, BEI Pastikan Indeks Tak Melonjak

Redaksi Bit Nusantara ·

Sekelompok profesional yang beragam terlibat dalam rapat bisnis di kantor modern.
Ilustrasi · Foto: Vlada Karpovich / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Bursa Efek Indonesia memastikan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi dihitung dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai 2 November 2026. Bersamaan dengan itu, BEI memperluas komite HSC menjadi sembilan orang dengan melibatkan unsur independen, akademisi, dan investor asing, sementara pengawas pasar modal memperketat keterbukaan kepemilikan saham.

Poin kunci

  • Saham HSC tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG mulai 2 November 2026.
  • Sebanyak 82 saham berkategori HSC dikeluarkan dari perhitungan IHSG.
  • Hasil backtest BEI menunjukkan kebijakan ini tidak menimbulkan lonjakan pada indeks.
  • Komite HSC diperluas menjadi sembilan orang: empat dari direksi SRO dan lima dari unsur eksternal independen.
  • Ambang keterbukaan informasi kepemilikan saham turun dari di atas 5% menjadi di atas 1%, dan klasifikasi investor dirinci menjadi 39 kelompok.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Mulai 2 November 2026, saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi masuk dalam hitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menurut penegasan Bursa Efek Indonesia (BEI). Jumlah emiten yang dikeluarkan dari perhitungan indeks itu mencapai 82 saham.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyebut langkah tersebut sebagai kelanjutan dari pengecualian saham HSC pada indeks IDX30, LQ45, dan IDX80. Bobot saham yang dikeluarkan akan dibagikan kepada saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG.

BEI juga menguji kebijakan ini lewat backtest atau simulasi berbasis data historis. Hasilnya, pencabutan saham HSC tidak akan memicu lonjakan pada indeks.

Di sisi tata kelola, BEI memperluas komite HSC menjadi sembilan orang. Empat kursi diisi perwakilan direksi organisasi swaregulasi (SRO), dan lima kursi lainnya berasal dari unsur eksternal yang independen.

Keempat kursi SRO ditempati dua direksi BEI serta masing-masing satu direksi dari KPEI dan KSEI. Unsur eksternal mencakup pelaku industri pasar modal, perusahaan efek, akademisi, dan investor asing.

Dari industri, BEI menggandeng Direktur Utama Mandiri Sekuritas dan Direktur Utama UBS Sekuritas. Unsur tata kelola diwakili Ketua Umum Dewan Pengurus Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG).

Kalangan akademisi diwakili Prof. Mardiasmo dan Prof. Investor asing diwakili Chapman Taylor dari Capital Group, yang berpengalaman lebih dari 30 tahun mengelola dana portofolio.

Jeffrey menyatakan komposisi tersebut masih dapat berkembang. "Dengan komposisi baru ini, kami dapat saja menambah anggota atau dalam diskusinya nanti bisa mengundang narasumber independen dalam rapat-rapat komite," kata Jeffrey Hendrik.

Ia menambahkan harapan atas perluasan komite itu. "Seperti kami sampaikan tadi, kami harapkan dengan demikian transparansi tata kelola dan kredibilitas dari output dari komite ini akan dapat lebih baik ke depannya," kata Jeffrey Hendrik.

Keterbukaan informasi kepemilikan saham diperluas dari ambang di atas 5% menjadi di atas 1%.

Klasifikasi tipe investor pun dirinci, dari sembilan kelompok besar menjadi 39 kelompok.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Dari lensa ekonomi, pencabutan 82 saham HSC berpotensi mengubah cara IHSG menggambarkan pasar. Dengan bobot yang dialihkan ke konstituen lain, indeks dapat lebih mencerminkan saham yang benar-benar dimiliki publik, sebagaimana tercermin dari judul pemberitaan yang menyebut IHSG "reborn". Bagi investor, pergeseran bobot ini patut dicermati karena pergerakan indeks pascapenyesuaian bisa berbeda dari yang selama ini dikenal.

Pernyataan BEI bahwa backtest tidak menunjukkan lonjakan indeks dapat meredam kekhawatiran terjadinya guncangan harga saat penyesuaian berlaku. Namun, hasil simulasi historis tidak otomatis menjamin perilaku pasar sesungguhnya setelah 2 November, sehingga reaksi investor menjadi pertanyaan yang patut diikuti.

Perluasan komite HSC yang melibatkan investor asing, akademisi, dan pelaku industri, serta turunnya ambang keterbukaan kepemilikan menjadi di atas 1%, berpotensi memperkuat kredibilitas indeks di mata pemodal. Data kepemilikan yang lebih rinci dapat membantu pelaku pasar menilai konsentrasi saham dengan lebih akurat. Sejauh mana kebijakan ini mengubah minat investor terhadap pasar saham domestik masih menjadi pertanyaan yang bergantung pada pelaksanaannya.