Googlebook dipuji soal perangkat keras, tetapi OS-nya dinilai belum matang
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Ulasan atas laptop Googlebook, platform baru Google yang diluncurkan pada 4 Oktober, menilai perangkat kerasnya apik tetapi sistem operasinya belum stabil. Dell XPS Googlebook dan Lenovo Googlebook 15 dipuji dari sisi fisik, sementara dukungan aplikasi setara desktop dan kestabilan perangkat lunak dikeluhkan para penulis ulasan.
Poin kunci
- Dell XPS Googlebook dibanderol 1.000 dolar AS, hanya selisih satu dolar dari XPS 13 Windows 11 yang berperangkat keras sama.
- Googlebook 15 dari Lenovo bertenaga Intel Core Ultra 5 325 dan berlayar OLED 15,3 inci, tetapi sistem operasinya dinilai tidak stabil.
- Google menyebut lebih dari 300 dari 10.000 lebih aplikasi Android terpopuler belum dioptimalkan untuk Googlebook Intel.
- Google mengakui model Googlebook berprosesor Intel x86 paling terdampak masalah aplikasi.
- Googlebook diumumkan pada Mei dan diluncurkan pada 4 Oktober, dengan harga mulai 899 dolar AS.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Gelombang ulasan pertama laptop Googlebook memperlihatkan pola yang sama: bodinya dipuji, sistem operasinya dikritik. Googlebook diluncurkan Google pada 4 Oktober, setelah diumumkan pada Mei dengan janji integrasi ekosistem yang kuat.
Googlebook OS adalah platform laptop baru Google yang memadukan Android dan ChromeOS. Platform ini mendukung aplikasi Android secara native dan membawa kecerdasan buatan Gemini. Dalam rancangannya, aplikasi dan file ponsel dapat diakses dari laptop tanpa pemasangan ulang atau proses masuk ulang.
Google membidik pengguna Pixel dan perangkat Android yang menjalankan Android 17 atau lebih baru. Produsen yang menggandeng platform ini adalah Acer, ASUS, HP, Dell, dan Lenovo, dengan harga mulai 899 dolar AS.
Dell menggarap XPS Googlebook dari desain XPS 13 yang disesuaikan untuk Googlebook OS. Bobotnya 2,2 pon dan layarnya 13,4 inci. Chip yang dipakai adalah Qualcomm Snapdragon X Elite dengan RAM 16GB, sama dengan XPS 13 versi Windows 11. Harganya 1.000 dolar AS, sedangkan versi Windows 11 dijual 999 dolar AS.
Daya tahan baterainya tergolong menonjol. Dalam uji PCMark Android, perangkat ini bertahan 15 jam 15 menit. Namun, XPS Googlebook hanya punya dua port USB-C dan tidak menyediakan jack headphone.
Penulis ulasan di sana menilai persoalan utama ada di perangkat lunak. Evernote tidak tersedia di Google Play Store Googlebook, sehingga ia mesti membuka situs webnya dan masuk setiap kali laptop dinyalakan.
Aplikasi CapCut Pad juga disorot karena menyedot separuh baterai dalam satu jam, padahal hanya berjalan di latar belakang. Adapun lampu "Glowbar" di bagian belakang hanya menampilkan status pengisian dan sisa baterai, dan dinilai tidak memecahkan persoalan berarti bagi pengguna laptop.
"Googlebook OS masih membutuhkan banyak sekali pekerjaan," tulis ulasan tersebut. Penulisnya juga mengaku terbiasa memandang komputer sebagai pintu menuju perangkat lunak canggih. "Saya terbiasa dengan komputer sebagai gerbang menuju perangkat lunak canggih dan dukungan pengembang yang sehat," kata penulis ulasan.
Ulasan Lenovo Googlebook 15 mengarah ke kesimpulan serupa. Laptop ini memakai prosesor Intel Core Ultra 5 325 delapan inti, GPU terintegrasi Intel, RAM 16GB LPDDR5X, dan SSD 512GB. Layarnya OLED 15,3 inci beresolusi 2880 x 1800 piksel, dengan refresh rate 120Hz dan kecerahan puncak 1000 nits.
Di Geekbench 7, perangkat ini meraih 2.349 poin untuk satu inti dan 10.289 untuk multi-inti, serta 892 poin di 3DMark Steel Nomad Light. Baterainya 70Wh dengan pengisian USB-C 65W, dan produsen memperkirakan daya tahan 13 jam.
Sambungannya lebih lengkap dibanding XPS: dua Thunderbolt 4, satu USB-A, satu HDMI 2.0, dan jack audio 3,5mm, ditambah Wi-Fi 7 dan Bluetooth 6.0. Bobotnya 1.290 gram dan harga mulai 1.099 dolar AS, turun dari harga awal pengumuman sebesar 1.300 dolar AS.
Meski begitu, penulis ulasan menyebut sistemnya tidak stabil. Sejumlah aplikasi gagal dimuat, layar sentuh kadang tidak merespons, dan ponsel Pixel 11 Pro sulit disambungkan. Aplikasi yang diklaim dioptimalkan untuk desktop, seperti Adobe Photoshop, Lightroom, dan Spotify, ternyata hanya versi tablet Android yang diperbesar.
"Googlebook OS terasa seperti eksperimen yang belum sepenuhnya siap," kata penulis ulasan. Ia menambahkan, "Saya tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ini hanyalah versi ChromeOS yang setengah matang".
Google sendiri mengakui adanya kendala, terutama pada model berprosesor Intel x86. Yang disebut terdampak ialah Asus Googlebook 14, Lenovo Googlebook 15, dan Acer Googlebook 14. Banyak aplikasi Android dirancang untuk chip Arm, sehingga aplikasi kompleks atau game memerlukan penyesuaian pengembang agar optimal di Intel.
Google juga menyebut lebih dari 300 dari 10.000 lebih aplikasi Android terpopuler belum dioptimalkan untuk Googlebook Intel. Di sisi lain, perusahaan itu menegaskan, "Sebagian besar aplikasi Android berjalan lancar di Googlebook Intel maupun Qualcomm tanpa perlu penyesuaian," kata Google.
Sebagian kecil aplikasi yang ditujukan untuk desktop dilaporkan bermasalah, mulai dari performa buruk, antarmuka kurang baik, hingga unduhan gagal.
Bagi pengguna Samsung, Googlebook dinilai tidak menawarkan banyak hal baru. Samsung DeX sudah tersedia sejak 2017 dan terus mendapat fitur, sementara tablet Galaxy bisa menjalankan versi lebih sederhana bernama New Dex. "Googlebook tampaknya menghadirkan pengalaman yang mungkin terlalu familiar bagi pengguna Samsung," tulis penulis artikel.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Pola yang muncul dari berbagai ulasan ini patut dicermati: kekuatan Googlebook ada pada perangkat keras mitra, sedangkan kelemahannya ada pada platform yang sama untuk semua produsen. XPS Googlebook dan XPS 13 Windows 11 memakai chip dan RAM yang sama dengan selisih harga hanya satu dolar. Karena itu, keputusan pembeli berpotensi lebih ditentukan oleh kesiapan perangkat lunak daripada spesifikasi.
Pengakuan Google bahwa model Intel paling terdampak masalah aplikasi sejalan dengan keluhan soal aplikasi yang gagal dimuat dan layar sentuh yang tidak responsif pada Lenovo Googlebook 15. Hal itu dapat menjadi pertanyaan bagi pembeli yang mempertimbangkan model Intel, terlebih sebagian aplikasi desktop yang diiklankan ternyata hanya versi tablet yang diperbesar. Penurunan harga Lenovo dari 1.300 menjadi 1.099 dolar AS dapat ditafsirkan sebagai upaya menjaga daya tarik, meski sebabnya tidak dijelaskan. Bagi pengguna Galaxy, DeX yang sudah lama tersedia berpotensi menjadi pembanding yang sulit dikalahkan selama Googlebook OS masih berbenah.
- #Googlebook
- #Dell XPS Googlebook
- #Lenovo Googlebook 15
- #Samsung DeX