17.400 Ton Benda Buatan Manusia Padati Orbit Bumi, Falcon 9 Bahkan Hantam Bulan

Redaksi Bit Nusantara ·

Foto close-up dari smartphone ramping dengan latar belakang bokeh yang kabur, menekankan desain modernnya.
Ilustrasi · Foto: Torsten Dettlaff / Pexels

TL;DR · Ringkasan

Data Badan Antariksa Eropa (ESA) per 23 Oktober 2026 menunjukkan total massa benda buatan manusia di orbit Bumi telah melampaui 17.400 ton, dengan 47.270 objek terlacak. Pada Agustus lalu, bagian atas roket Falcon 9 menabrak Bulan dan membentuk kawah baru, sementara serpihan roket jatuh di Indonesia dan Amerika Serikat pekan lalu. Sejumlah lembaga dan perusahaan kini menyiapkan misi pembersihan orbit serta aturan pembatasan sampah antariksa.

Poin kunci

  • Massa total objek buatan manusia di orbit Bumi telah melewati 17.400 ton menurut pembaruan data ESA Oktober 2026.
  • Sebanyak 47.270 objek antariksa telah dilacak per 23 Oktober 2026, dan sekitar 15.900 di antaranya satelit yang masih berfungsi.
  • Bagian atas roket Falcon 9 SpaceX menabrak permukaan Bulan pada Agustus dan membentuk kawah tumbukan baru.
  • Serpihan roket ZhuQue-2E ditemukan di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, dan diidentifikasi BRIN.
  • ESA menargetkan pendekatan Zero Debris pada 2030, sementara ClearSpace UK dan Korea Selatan menyiapkan misi pembersihan orbit.

JAKARTA, BIT NUSANTARA — Massa seluruh benda buatan manusia yang mengorbit Bumi kini telah melampaui 17.400 ton, berdasarkan pembaruan data Badan Antariksa Eropa (ESA) pada Oktober 2026. Angka itu mencakup satelit aktif, wahana yang telah mati, bekas badan roket, hingga serpihan hasil benturan di masa lalu.

Statistik ESA per 23 Oktober 2026 mencatat 47.270 objek antariksa telah dilacak secara rutin dan masuk katalog pemantauan. Dari jumlah tersebut, sekitar 19.440 adalah satelit di orbit, termasuk yang sudah tidak aktif, dan 15.900 di antaranya masih berfungsi.

Sebagian besar sampah antariksa berada di orbit rendah Bumi (LEO), yang membentang hingga ketinggian sekitar 2.000 kilometer. Puing juga ditemukan di orbit geostasioner pada sekitar 35.786 kilometer di atas permukaan Bumi.

Objek yang tak lagi berfungsi, maupun pecahannya, menjadi persoalan karena dapat menabrak wahana yang masih beroperasi. Kecepatan puing mencapai puluhan ribu kilometer per jam, dan NASA menegaskan serpihan sebesar milimeter pun mampu menembus perisai pelindung stasiun luar angkasa.

Untuk objek berukuran lebih kecil, ESA memperkirakan terdapat sekitar 68.450 benda yang lebih besar dari 10 sentimeter, termasuk 11.300 muatan aktif. Perkiraan lain menyebut ada sekitar 1,5 juta keping berukuran 1 hingga 10 sentimeter, serta 230 juta keping yang diameternya antara 1 milimeter dan 1 sentimeter.

Lalu lintas di orbit pun terus bertambah. Sepanjang 2025, lebih dari 4.000 muatan baru ditempatkan di orbit lewat berbagai peluncuran. Setiap hari rata-rata sekitar sepuluh muatan baru meluncur, sedangkan lebih dari tiga satelit utuh atau badan roket kembali memasuki atmosfer Bumi.

Dampaknya mulai terasa di darat dan di Bulan. Bagian atas roket Falcon 9 milik SpaceX yang tak terkendali menghantam permukaan Bulan pada Agustus dan meninggalkan kawah tumbukan baru yang sangat besar. Pekan lalu, potongan besar puing antariksa jatuh di Minnesota, Amerika Serikat, dan di Indonesia.

Di Indonesia, serpihan bekas roket Tiongkok ditemukan di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. BRIN mengidentifikasinya sebagai bagian roket ZhuQue-2E yang jatuh sehari sebelumnya. Kajian Syahrani dan kolega menyebut Indonesia berada di zona berisiko jatuhnya sampah antariksa, terutama objek di bawah ketinggian 600 kilometer.

Bahaya terbesar yang dikhawatirkan ilmuwan adalah sindrom Kessler, yakni rangkaian tabrakan yang melahirkan pecahan baru hingga orbit terlalu padat bagi satelit telekomunikasi dan navigasi. Dalam laporan lingkungan antariksa terbarunya, ESA menempatkan risiko itu sebagai ancaman jangka panjang paling serius bagi eksplorasi luar angkasa.

"Penyebab utama masalah puing-puing antariksa saat ini adalah ledakan di orbit," kata Holger Krag, Kepala Program Keselamatan Antariksa ESA. Ia juga mengatakan, "Meski beberapa langkah sudah diterapkan selama bertahun-tahun untuk mencegah hal ini, kami tidak melihat penurunan jumlah kejadian tersebut."

Upaya penanggulangan mulai bergerak. ESA menargetkan pembatasan produksi sampah dari berbagai misi di orbit Bumi maupun Bulan lewat pendekatan Zero Debris pada 2030, dan menguraikan visi ekonomi ruang angkasa sirkular tanpa limbah pada 2050.

Di sisi pelaku usaha dan negara, ClearSpace UK merencanakan peluncuran pesawat antariksa pada 2029 guna mengeluarkan dua satelit Inggris yang sudah tua dari orbit sebelum 2032. Korea Selatan menjadwalkan proyek Satelit Penghapus Puing Aktif (ADR-SAT) tahun depan.

BRIN, di dalam negeri, mendorong kolaborasi pengamatan internasional sambil memanfaatkan fasilitas nasional, antara lain teleskop 3,8 meter di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur.

// Analisis redaksi

pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta

Rangkaian data ini memperlihatkan dua tren yang berjalan bersamaan: orbit makin ramai karena peluncuran harian, sementara jumlah kejadian ledakan di orbit belum menurun menurut Holger Krag. Kombinasi itu dapat memperbesar peluang tabrakan yang menghasilkan pecahan baru, sehingga kekhawatiran akan sindrom Kessler patut dicermati sebagai risiko jangka panjang, bukan sekadar skenario di atas kertas.

Bagi Indonesia, jatuhnya serpihan ZhuQue-2E di Sampit dan penegasan BRIN soal zona berisiko menjadi pengingat bahwa persoalan ini bukan hanya urusan negara peluncur.

  • #ESA
  • #Falcon 9
  • #sampah antariksa
  • #orbit Bumi
  • #pembersihan orbit