Sampah Antariksa 17 Ribu Ton Mengorbit Bumi, Falcon 9 Hantam Bulan
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Sekitar 16.000 hingga 17.000 ton sampah antariksa buatan manusia berada di orbit Bumi. Risikonya tampak pada Agustus lalu, ketika bagian atas roket Falcon 9 menumbuk Bulan, dan pekan lalu, ketika puing jatuh di Minnesota, Amerika Serikat, serta di Indonesia. Badan antariksa dan perusahaan di sejumlah negara kini menyiapkan rencana untuk membersihkan orbit.
Poin kunci
- Benda buatan manusia seberat sekitar 16.000 hingga 17.000 ton berada di orbit Bumi dan berpotensi mengancam satelit aktif serta misi masa depan.
- Pada Agustus lalu, bagian atas roket Falcon 9 milik SpaceX menumbuk Bulan dan membentuk kawah baru yang sangat besar.
- Per 23 Oktober 2026, ESA mencatat 47.270 objek antariksa yang sudah dilacak, dengan 15.900 satelit masih berfungsi.
- Serpihan bekas roket Cina ditemukan di Sampit, Kalimantan Tengah, dan oleh BRIN diidentifikasi sebagai bagian roket ZhuQue-2E.
- ClearSpace UK berencana meluncurkan pesawat antariksa pada 2029, sementara Korea Selatan menyiapkan proyek penghapus puing aktif tahun depan.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Benda buatan manusia seberat 16.000 hingga 17.000 ton kini berputar di orbit Bumi sebagai sampah antariksa. Massa sebanyak itu berpotensi mengancam satelit aktif serta misi antariksa di masa depan. Catatan ESA bahkan menyebut total massa benda buatan manusia di orbit telah melampaui 17.400 ton.
Risiko tersebut tidak lagi sebatas hitungan di atas kertas. Pada Agustus lalu, tahap atas roket Falcon 9 milik SpaceX yang terus melayang menumbuk Bulan dan meninggalkan kawah tumbukan baru yang sangat besar.
Pekan lalu, potongan besar puing antariksa jatuh di negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, dan di Indonesia. Di Sampit, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, ditemukan serpihan bekas roket Cina. BRIN mengidentifikasinya sebagai bagian dari ZhuQue-2E yang jatuh sehari sebelumnya.
Sejak Sputnik diluncurkan pada 1957, manusia terus menambah aktivitas di orbit, dan sampah antariksa ikut bertambah seiring makin sering diluncurkannya satelit serta wahana. Statistik ESA per 23 Oktober 2026 mencatat 47.270 objek antariksa yang sudah dilacak. Sekitar 19.440 di antaranya satelit, baik aktif maupun nonaktif, dan 15.900 dari jumlah itu masih berfungsi.
Angka berbeda muncul dalam data lain. Lebih dari 47.080 objek buatan manusia telah dikatalogkan, dengan hanya sekitar 15.900 yang masih aktif. Gambaran lain menunjukkan bahwa pada 2010 ada sekitar 1.000 satelit operasional, sedangkan kini hanya 17.000 yang beroperasi dari lebih dari 40.000 objek di orbit.
ESA memperkirakan lebih dari 1,2 juta keping puing berukuran di atas 1 cm mengorbit Bumi.
Puing itu melaju dengan kecepatan hingga puluhan ribu kilometer per jam. NASA melalui Orbital Debris Program Office menegaskan bahwa serpihan sebesar milimeter pun sanggup menembus perisai pelindung stasiun luar angkasa.
Sebagian besar puing terbakar oleh gesekan atmosfer, tetapi beberapa material tahan panas dapat sampai ke daratan. Lintasan sisa roket Tiongkok CZ-3B di wilayah udara Indonesia menjadi salah satu contohnya, sedangkan serpihan masif seperti badan roket berpotensi masuk kembali ke atmosfer lalu jatuh ke permukaan Bumi. Pada 2024, sekitar 124 bagian roket memasuki atmosfer lagi tanpa kendali. Para ahli memperkirakan, bila laju itu bertahan selama dekade berikutnya, kemungkinan korban jiwa akibat puing roket mencapai 33%.
Letak Indonesia membuatnya rawan. Objek di bawah ketinggian 600 km menempatkan Indonesia pada zona berisiko jatuhnya sampah antariksa. Orbit rendah Bumi (LEO) membentang hingga sekitar 2.000 km dan menampung sebagian besar sampah, sedangkan sampah juga ditemukan di orbit geostasioner pada ketinggian sekitar 35.786 km.
Syahrani dkk. juga menghitung bahwa posisi Indonesia berada di bawah orbit geostasioner terpanjang, sebesar 13 persen dari total rentang orbit. "Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki letak geografis di garis khatulistiwa," kata Fara Syahrani dan kolega.
Tabrakan beruntun dapat memicu Kessler Syndrome, yakni keadaan ketika serpihan terus bertambah hingga orbit terlalu padat dan berbahaya bagi satelit telekomunikasi dan navigasi. Dalam Laporan Lingkungan Luar Angkasa terbarunya, ESA menilai risiko sindrom Kessler sebagai ancaman paling serius dalam jangka panjang bagi eksplorasi luar angkasa.
"Penyebab utama masalah puing-puing antariksa saat ini adalah ledakan di orbit," kata Kepala Program Keselamatan Antariksa ESA, Holger Krag. Ia menambahkan, "Meski beberapa langkah sudah diterapkan selama bertahun-tahun untuk mencegah hal ini, kami tidak melihat penurunan jumlah kejadian tersebut."
Upaya pembersihan mulai dirancang. ESA telah menguraikan visi pendekatan tanpa limbah dan ekonomi ruang angkasa sirkular pada 2050. ClearSpace UK berencana meluncurkan pesawat antariksa pada 2029 untuk menarik dua satelit Inggris yang sudah tua keluar dari orbit sebelum 2032. Korea Selatan merencanakan peluncuran proyek Satelit Penghapus Puing Aktif tahun depan.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Rangkaian fakta ini menunjukkan bahwa sampah antariksa bukan lagi persoalan yang jauh dari Bumi. Kawah baru di Bulan akibat roket Falcon 9 dan jatuhnya serpihan roket di Sampit sama-sama memperlihatkan bahwa benda yang ditinggalkan di ruang angkasa dapat berujung pada tumbukan atau pendaratan tanpa kendali. Pernyataan Holger Krag bahwa jumlah kejadian ledakan di orbit belum menurun, ditambah angka 124 bagian roket yang masuk kembali ke atmosfer pada 2024, patut dicermati. Keduanya berpotensi berarti bahwa langkah pencegahan yang berjalan belum cukup menahan penambahan puing. Bila tabrakan beruntun terjadi, risiko sindrom Kessler terhadap satelit telekomunikasi dan navigasi dapat menjadi lebih nyata.
Bagi Indonesia, letak di garis khatulistiwa dan posisi pada zona berisiko di bawah ketinggian 600 km ditambah lintasan sisa roket CZ-3B di wilayah udaranya menjadi pertanyaan tentang seberapa siap pemantauan nasional. Teleskop 3,8 meter di Observatorium Nasional Timau dapat menjadi modal pengamatan, tetapi apakah kapasitas itu memadai masih terbuka. Rencana ClearSpace UK, proyek penghapus puing aktif dari Korea Selatan, dan visi ekonomi sirkular ESA untuk 2050 berpotensi menandai pergeseran dari sekadar memantau menuju membersihkan, meski seluruhnya masih berupa rencana. Perbedaan angka objek yang dilacak di antara,, dan juga mengingatkan bahwa jumlah bergantung pada katalog dan waktu pencatatan, sehingga perbandingan antarsumber perlu dibaca dengan hati-hati.
- #sampah antariksa
- #orbit Bumi
- #Falcon 9
- #Bulan
- #Minnesota
- #Indonesia