Obama Kaitkan Perang Iran dengan Kenaikan Harga, Jajak Pendapat: 70 Persen Pemilih AS Ingin Perang Diakhiri
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
Barack Obama, mantan presiden AS, menyebut perang Iran sebagai alasan naiknya harga hampir semua barang. Ia berkampanye di Ohio dan Michigan pada 24 Oktober 2026, menjelang pemilihan paruh waktu 3 November. Jajak pendapat AP-NORC mencatat sekitar tujuh dari sepuluh pemilih ingin Kongres baru memprioritaskan penghentian perang, sementara Trump mengaku mempertimbangkan serangan baru ke Iran.
Poin kunci
- Obama menyebut perang Iran sebagai alasan kenaikan harga minyak, diesel, dan hampir semua barang.
- Obama berkampanye di Ohio dan Michigan pada 24 Oktober 2026 untuk kandidat Demokrat menjelang pemilihan paruh waktu 3 November 2026.
- Sekitar 70 persen pemilih AS ingin Kongres baru memprioritaskan pengakhiran perang dengan Iran, dan sekitar 80 persen menempatkan penurunan biaya hidup sebagai prioritas.
- Trump menyatakan mempertimbangkan serangan ke Iran yang mungkin terjadi keesokan harinya, dan mengklaim pengiriman minyak lewat Selat Hormuz meningkat dibandingkan sebelum perang.
- Pada hari yang sama, Trump berkampanye di Georgia, tempat jajak pendapat Atlanta Journal Constitution menempatkan Jon Ossoff unggul atas Mike Collins.
JAKARTA, BIT NUSANTARA — Barack Obama, mantan presiden AS, mengaitkan perang Iran dengan naiknya harga barang di Amerika Serikat. Pernyataan itu, yang dikutip Al-Jazeera pada Minggu (25/10/2026), disampaikan menjelang pemilihan paruh waktu 3 November.
Obama menguraikan rantai sebab-akibat versinya. "Inilah alasan mengapa harga minyak naik. Inilah alasan mengapa harga bahan bakar diesel naik. Inilah alasan mengapa harga hampir semua barang mengalami kenaikan," kata Obama.
Ia juga menyoroti Selat Hormuz, jalur distribusi minyak ke pasar dunia. "Saat ini, Iran memiliki hak veto atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui minyak untuk didistribusikan ke pasar dunia," ujarnya. Obama mengklaim Iran tidak memiliki senjata nuklir berkat kesepakatan yang ia tetapkan, sedangkan Donald Trump menarik AS keluar dari JCPOA pada 2018, di masa jabatan pertamanya.
Kesepakatan 2015 itu mewajibkan Iran membatasi pengayaan uranium dan menerima inspeksi, dengan imbalan pelonggaran sanksi.
Pada 24 Oktober 2026, Obama tampil dalam rapat umum di Ohio dan Michigan untuk mendukung kandidat Partai Demokrat. "Yang terpenting, dia memutuskan untuk memulai perang yang tidak perlu dan tidak diinginkan siapa pun," kata Obama. Ia juga menuding Trump menyebabkan kekacauan, kekejaman, korupsi, dan ketidakkompetenan.
Di Michigan, Obama berkampanye untuk Abdul El-Sayed yang bersaing dengan Mike Rogers dari Partai Republik memperebutkan kursi Senat. Di Ohio, mantan senator Sherrod Brown menantang petahana Jon Husted, sementara kursi gubernur diperebutkan Amy Acton dan Vivek Ramaswamy.
Jajak pendapat Associated Press bersama Pusat Penelitian NORC mencatat sekitar tujuh dari sepuluh warga AS ingin Kongres baru memprioritaskan pengakhiran perang dengan Iran. Sekitar delapan dari sepuluh pemilih terdaftar menyatakan penurunan biaya hidup harus menjadi prioritas utama. Sekitar empat dari sepuluh menginginkan penyelidikan terhadap pemerintahan Trump, sedangkan sekitar dua dari sepuluh ingin Kongres mengutamakan dukungan terhadap agenda politik Trump.
Dari kubu Trump, pada Sabtu (24/10) waktu AS, ia menyatakan sedang mempertimbangkan serangan terhadap Iran yang mungkin terjadi keesokan harinya. "Apakah Anda benar-benar berpikir saya akan memberi tahu Anda jika saya akan melakukannya?" kata Trump. Ia juga mengklaim pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat dibandingkan kondisi sebelum perang.
Pada hari yang sama, Trump memberikan suara di Florida, lalu berkampanye di Georgia. Ia menyebut kemenangan Mike Collins atas Jon Ossoff sebagai kejutan besar, sementara jajak pendapat Atlanta Journal Constitution menempatkan Ossoff unggul. Trump juga mengumumkan bahwa Audi akan menginvestasikan 4,2 miliar dolar AS di pabrik besar di Macon, Georgia.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Fakta di bahan menunjukkan dua narasi yang berbenturan menjelang 3 November. Obama merangkai perang Iran, harga minyak, dan harga barang sehari-hari menjadi satu cerita, sedangkan Trump menonjolkan klaim bahwa pengiriman minyak lewat Selat Hormuz meningkat dibanding sebelum perang. Kedua klaim itu belum dapat diuji dari bahan yang ada, sehingga hubungan sebab-akibat antara perang dan kenaikan harga lebih tepat dipandang sebagai argumen kampanye daripada kesimpulan yang sudah terbukti.
Jajak pendapat AP-NORC memberi konteks mengapa argumen Obama berpotensi menemukan pendengar. Dua prioritas, yakni mengakhiri perang dan menurunkan biaya hidup, dipilih oleh mayoritas besar responden. Bagi Demokrat, menautkan keduanya dapat menjadi cara menerjemahkan isu kebijakan luar negeri ke urusan dapur pemilih. Bagi Republik, pernyataan Trump yang masih membuka opsi serangan baru patut dicermati karena dapat menjadi pertanyaan bagi pemilih yang menginginkan perang berakhir. Seberapa besar pengaruhnya terhadap hasil pemilihan baru akan terjawab pada hari pemungutan suara.
- #Barack Obama
- #Iran
- #Donald Trump