Harga BBM Turun, Tarif Pesawat AS Tetap Tinggi: Strategi Maskapai Jaga Laba
Redaksi Bit Nusantara ·

TL;DR · Ringkasan
American Airlines memperingatkan bahwa tarif penerbangan kemungkinan bertahan tinggi walau harga bahan bakar turun, sebagaimana disampaikan CFO Devon May. Maskapai-maskapai besar Amerika memilih mengejar imbal hasil per penumpang ketimbang mengisi kursi, sementara jumlah orang yang melewati pemeriksaan bandara menurun. Kebijakan itu muncul di tengah biaya bahan bakar jet yang melonjak sejak perang Israel-Iran pecah pada Februari.
Poin kunci
- CFO American Airlines Devon May menyebut tarif kemungkinan besar bertahan di posisi sekarang bila harga bahan bakar turun.
- Biaya bahan bakar American Airlines pada kuartal ketiga naik 67,5% atau 1,9 miliar dolar AS, dengan kerugian bersih GAAP 269 juta dolar AS.
- Tarif penerbangan di AS pada September naik 22,4% secara tahunan, jauh di atas kenaikan harga konsumen 3,6%.
- Faktor beban American Airlines turun menjadi 83,4% dari 86% setahun sebelumnya.
- Harga spot bahan bakar jet di pesisir Teluk AS naik dari 2,43 dolar AS per galon sebelum perang menjadi 4,63 dolar AS pada 20 Oktober.
Peringatan itu disampaikan Chief Financial Officer (CFO) Devon May.
"Jika bahan bakar turun, saya pikir tarif penerbangan kemungkinan akan tetap di posisi saat ini," kata Devon May. May juga menyebut harga tiket belum sepenuhnya pulih secara riil sejak gangguan pandemi.
Pernyataan itu datang bersama laporan keuangan kuartal ketiga 2026. Pendapatan total American Airlines mencapai 16,3 miliar dolar AS, tumbuh 19,3% dibanding tahun lalu. Di saat yang sama, biaya bahan bakar membengkak 1,9 miliar dolar AS atau 67,5%, dan perusahaan mencatat kerugian bersih GAAP 269 juta dolar AS atau 0,41 dolar AS per saham terdilusi. Kerugian bersih yang disesuaikan adalah 182 juta dolar AS.
Untuk sepanjang 2026, American Airlines memperbarui prakiraan kerugian di kisaran 1 hingga 1,60 dolar AS per saham. Harga bahan bakar kuartal keempat diperkirakan rata-rata sekitar 4,70 dolar AS per galon.
Beban bahan bakar itu berkaitan dengan lonjakan harga jet yang sekitar 90% sejak perang Israel-Iran dimulai pada Februari. Harga spot di pesisir Teluk AS naik dari 2,43 dolar AS per galon menjadi 4,63 dolar AS pada 20 Oktober.
Maskapai menanggapi tekanan biaya dengan menaikkan tarif. Data Biro Statistik Tenaga Kerja menunjukkan tarif penerbangan pada September naik 22,4% secara tahunan. Dalam tujuh bulan hingga September, tarif udara naik hampir 23%, sedangkan harga konsumen secara umum naik 3,6%.
"Jika harga bahan bakar tetap tinggi, kami harus terus mendorong hasil (yield) naik agar kami bisa mendapatkan sedikit keuntungan," kata Devon May. Ia menambahkan, "Kami pikir kenaikan hasil (yield) ini sangat berkelanjutan".
Strategi tersebut berarti kursi dibiarkan kosong. Maskapai AS disebut lebih memilih mempertahankan kursi kosong daripada menurunkan tarif demi mengisi kapasitas. Faktor beban American Airlines turun menjadi 83,4% pada kuartal ketiga dari 86% setahun sebelumnya. Chief Commercial Officer American Airlines, Nat Pieper, menyebut perusahaan secara aktif memprioritaskan yield dibanding faktor beban.
Pola serupa terlihat di maskapai lain. JetBlue Airways menaikkan tarif domestik satu arah 10 dolar AS, menyusul kenaikan serupa yang dipimpin United dan diikuti Southwest Airlines. Rata-rata tarif Southwest kuartal ketiga mencapai 231,69 dolar AS, naik hampir 50 dolar AS, sementara penumpang berbayarnya turun 3,2% menjadi sekitar 33,5 juta orang.
Namun data pemeriksaan keamanan bandara menunjukkan gambaran yang lebih rumit. Transportation Security Administration memeriksa 2,9% lebih sedikit orang pada kuartal itu dibanding tahun lalu. Sejak April hingga Kamis, sekitar 9,3 juta orang lebih sedikit diperiksa dibanding periode yang sama 2025, dan jumlah orang yang diperiksa tahun ini diproyeksikan turun untuk pertama kalinya sejak 2020.
Pendapatan penumpang lima maskapai besar, yakni Delta, United, American, Southwest, dan Alaska, bertambah hampir 8,8 miliar dolar AS atau 18% pada kuartal ketiga, padahal lalu lintas penumpang naik kurang dari 1%. Pendapatan kabin premium American naik 22,9%, sedangkan Main Cabin naik 19,5%. Pendapatan per unit United naik 16%, kenaikan terbesar sejak pandemi.
Hasilnya belum merata. Delta dan Southwest memangkas ramalan laba tahunan, sedangkan American Airlines memperkirakan rugi sepanjang tahun walau pendapatan penumpangnya melonjak.
// Analisis redaksi
pendapat Redaksi Bit Nusantara · terpisah dari fakta
Rangkaian data di bahan memperlihatkan pergeseran cara maskapai menjaga laba: dari mengisi sebanyak mungkin kursi menjadi memeras pendapatan lebih besar dari tiap penumpang. Pendapatan penumpang lima maskapai besar naik 18% sementara lalu lintas penumpang naik kurang dari 1%, dan faktor beban American turun ke 83,4%. Pernyataan Devon May bahwa tarif akan bertahan walau bahan bakar turun dapat dibaca sebagai sinyal bahwa kenaikan tarif tidak lagi dipandang sebagai sementara, melainkan sebagai pijakan baru bagi struktur pendapatan.
Bagi penumpang, hal ini berpotensi berarti harga tiket tidak otomatis ikut turun ketika biaya bahan bakar mereda. Kenaikan tarif hampir 23% jauh melampaui inflasi konsumen 3,6%, dan penurunan jumlah orang yang diperiksa di bandara menjadi pertanyaan tentang seberapa lama permintaan sanggup menopang strategi ini. Rencana penambahan kapasitas domestik pada kuartal keempat dan awal 2027 patut dicermati: bila kursi bertambah sementara permintaan menurun, tekanan untuk menurunkan tarif dapat muncul kembali. Untuk saat ini, bahan belum memperlihatkan hal itu.
- #American Airlines
- #tarif penerbangan
- #harga BBM